kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.904.000   -43.000   -1,46%
  • USD/IDR 16.853   10,00   0,06%
  • IDX 8.212   -53,08   -0,64%
  • KOMPAS100 1.158   -9,98   -0,85%
  • LQ45 830   -9,73   -1,16%
  • ISSI 295   -1,25   -0,42%
  • IDX30 432   -3,95   -0,91%
  • IDXHIDIV20 516   -4,82   -0,92%
  • IDX80 129   -1,21   -0,93%
  • IDXV30 142   -0,67   -0,47%
  • IDXQ30 139   -1,75   -1,24%

Industri manufaktur naik ke level tertinggi


Selasa, 05 Juni 2018 / 11:01 WIB
Industri manufaktur naik ke level tertinggi
ILUSTRASI. Semen Holcim


Reporter: Ghina Ghaliya Quddus, Sanny Cicilia | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mesin manufaktur Indonesia semakin panas. Nikkei Indonesia Manufacturing Purchasing Managers' Index menunjukkan, indeks manufaktur Tanah Air pada Mei 2018 di posisi 51,7, naik dari posisi 51,6 di bulan sebelumnya. Pengusaha optimistis pertumbuhan sektor manufaktur akan terjaga pada periode mendatang.

Kenaikannya memang tipis, namun itu merupakan level tertinggi dalam 23 bulan terakhir atau sejak Juni 2016.

Sekadar informasi, PMI di atas level 50 menunjukkan manufaktur berekspansi. Sedangkan di bawah level 50, ada kontraksi di sektor ini.

Pergerakan manufaktur di bulan Mei 2018 terdorong permintaan baru yang tumbuh dengan level tercepat sejak Juli 2014. Sementara produksi terus naik dalam empat bulan terakhir dan ini menjadi periode ekspansi terpanjang selama lima tahun terakhir.

Permintaan domestik yang menguat menjadi pendorong manufaktur Indonesia. Pasalnya, dalam catatan Nikkei, sampai Mei lalu permintaan ekspor sudah turun enam bulan berturut-turut.

"Kesehatan sektor manufaktur Indonesia di bulan Mei merupakan yang terkuat sejak Juni 2016 ditopang pertumbuhan bisnis baru dengan level terkuat sejak Juli 2014. Panelis melihat, PMI ini merefleksikan permintaan domestik yang lebih kuat, sementara permintaan dari pasar global masih tenang," tulis Aashna Dodhia, Ekonom di IHS Markit dalam keterangan tertulis, Senin (4/6).

Salah satu tantangan manufaktur Indonesia pada Mei adalah tren pelemahan rupiah terhadap dollar AS yang mempengaruhi bahan baku impor. Kurs rupiah pada Mei sempat menembus Rp 14.200 per dollar Amerika Serikat (AS). Akibatnya, inflasi biaya produksi pun terkerek tajam ke level tertinggi sejak Oktober 2015. Pasalnya, sebagian besar bahan baku industri manufaktur berasal dari impor.

Namun, Dodhia melihat Bank Indonesia (BI) sudah mengambil langkah menolong rupiah dengan menaikkan bunga acuan. Hasil Rapat Dewan Gubernur BI akhir Mei kembali menaikkan 7-day reverse repo rate (BI7DRRR) menjadi 4,75%.

"Diharapkan, kebijakan bunga acuan ini akan menjaga Indonesia dari larinya dana asing (capital flight) dan meringankan tekanan rupiah," jelas Dodhia.

Dalam kondisi ini, Nikkei mencatat, produsen optimistis ada perbaikan di sektor manufaktur ke depan. Optimisme untuk jangka pandang 12 bulan ini merupakan yang tertinggi dalam tiga bulan terakhir.

Permintaan domestik

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Benny Sutrisno menilai, pertumbuhan industri manufaktur meningkat seiring kenaikan permintaan domestik. Permintaan ekspor juga meningkat, tapi tidak berefek signifikan dibandingkan pasar lokal.

Memasuki kuartal II tahun ini, permintaan pasar domestik semakin besar. Hal ini seiring kebijakan pemerintah memulihkan daya beli masyarakat dengan menggelontorkan banyak anggaran bantuan sosial. "Permintaan masyarakat semakin besar seiring belanja bansos," jelas Benny.

Pada kuartal II-2018, pemerintah memang gencar mendorong belanja anggaran. Total penggunaan belanja pemerintah pusat hingga 30 April 2018 sebesar Rp 331 triliun atau 22,8% APBN, naik pesat dibandingkan periode sama 2017 hanya 19,9% APBN. Daya beli bakal semakin meningkat seiring dengan adanya pembayaran tunjangan hari raya (THR) untuk pegawai swasta maupun pemerintah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×