Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Neraca dagang Indonesia mencatat defisit pada Mei 2026 sebesar US$ 1,61 miliar. Defisit neraca dagang ini menjadi sinyal mulai menipisnya bantalan eksternal ekonomi nasional.
Setelah selama 72 bulan berturut-turut mencatat surplus neraca dagang, pembalikan kondisi ini menunjukkan tantangan baru di tengah pelemahan harga komoditas dan tingginya kebutuhan impor.
Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman mengatakan, defisit neraca dagang tersebut tidak hanya dipicu oleh melemahnya ekspor. Tetapi juga kombinasi lonjakan impor, terutama migas, bahan baku, dan barang modal, dengan terkoreksinya harga maupun volume ekspor komoditas utama Indonesia.
"Defisit neraca dagang Mei sebesar US$ 1,61 miliar harus dibaca sebagai sinyal bahwa bantalan eksternal Indonesia mulai menipis," ujar Rizal kepada Kontan, Kamis (2/7/2026).
Baca Juga: Defisit Neraca Dagang Diproyeksi Berdampak Negatif pada Pertumbuhan Ekonomi
Menurut Rizal, surplus perdagangan yang dinikmati Indonesia selama enam tahun terakhir bukan sepenuhnya mencerminkan kuatnya daya saing industri manufaktur. Surplus tersebut lebih banyak ditopang oleh windfall harga komoditas seperti batu bara, crude palm oil (CPO), nikel, besi dan baja, serta pemulihan harga global setelah pandemi Covid-19.
Ketika harga komoditas mulai terkoreksi, ekspor melemah, sementara kebutuhan impor energi dan bahan baku tetap tinggi, surplus perdagangan pun dengan cepat tergerus hingga berbalik menjadi defisit.
Rizal mengatakan, kondisi ini juga menjadi perhatian karena berkaitan erat dengan stabilitas nilai tukar rupiah. Neraca dagang merupakan salah satu sumber utama pasokan devisa dari aktivitas ekspor.
Saat surplus perdagangan menyempit atau berubah menjadi defisit, pasokan dolar AS dari ekspor bersih ikut berkurang. Di sisi lain, kebutuhan devisa untuk membiayai impor masih tinggi.
"Artinya, pelemahan rupiah tidak bisa hanya dibaca sebagai sentimen pasar jangka pendek, tetapi juga mencerminkan tekanan fundamental dari transaksi berjalan, khususnya ketika impor migas melebar dan ekspor komoditas kehilangan momentum," jelasnya.
Ke depan, Rizal memperkirakan neraca dagang Indonesia masih akan menghadapi risiko fluktuasi. Hal itu dipengaruhi prospek harga komoditas ekspor unggulan seperti CPO, batu bara, dan produk hilirisasi logam yang masih cenderung melemah, sementara impor migas dan bahan baku industri diperkirakan tetap tinggi.
Jika kondisi tersebut berlanjut, surplus perdagangan diperkirakan sulit kembali sebesar saat periode commodity boom.
Baca Juga: Defisit Neraca Dagang Diprediksi Hanya Sementara, Ekonom: Ada Peluang Kembali Surplus
Menurut Rizal, terdapat dua risiko utama yang perlu diwaspadai. Pertama, tekanan terhadap nilai tukar rupiah akibat berkurangnya pasokan devisa dari ekspor. Kedua, tekanan terhadap perekonomian domestik apabila kenaikan impor tidak diiringi ekspansi industri dan peningkatan ekspor bernilai tambah.
Karena itu, pemerintah perlu memastikan impor lebih banyak diarahkan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku produktif dan barang modal yang mampu mendorong aktivitas industri. Di saat yang sama, diversifikasi ekspor nonkomoditas juga perlu dipercepat agar ketergantungan terhadap siklus harga komoditas global dapat dikurangi.
"Tanpa itu, neraca dagang akan tetap rentan terhadap siklus harga komoditas global dan volatilitas rupiah akan lebih sulit dikendalikan," kata Rizal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














