Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Maret 2026 turun tipis menjadi 122,9 dari 125,2 pada Februari 2026.
Meski melemah, level indeks yang masih di atas 100 menandakan keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional tetap berada di zona optimistis.
BI menilai penurunan tersebut belum menunjukkan pergeseran ke arah pesimisme, melainkan lebih pada meredanya euforia optimisme awal tahun.
"Survei Konsumen Bank Indonesia pada Maret 2026 mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap kuat," ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso, Jumat (10/4/2026).
Baca Juga: Keyakinan Konsumen Turun, Sinyal Rumah Tangga Mulai Lebih Hati-Hati
Optimisme konsumen ditopang oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) sebesar 115,4 dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) 130,4.
Keduanya masih mencerminkan persepsi positif terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun prospek enam bulan ke depan, meski arah pergerakannya mulai melambat.
Penurunan IKK terutama dipengaruhi pelemahan pada ekspektasi konsumen serta sedikit penurunan penilaian terhadap kondisi ekonomi saat ini.
Dari sisi kondisi terkini, IKE turun tipis dari 115,9 menjadi 115,4. Sementara ekspektasi enam bulan ke depan turun lebih dalam dari 134,4 menjadi 130,4.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai penurunan ini belum mencerminkan perubahan menjadi pesimis. Menurutnya, masyarakat masih optimistis namun mulai lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang.
Baca Juga: BI: Persepsi Konsumen Terhadap Ekonomi Menurun di Maret 2026
"Pesan utamanya bukan kehilangan keyakinan, melainkan mulai lebih berhati-hati setelah sempat sangat optimis di awal tahun," ujarnya.
Ia menjelaskan, tekanan utama berasal dari melemahnya persepsi terhadap ketersediaan lapangan kerja yang turun ke 107,8 dari 110,7, serta penurunan minat pembelian barang tahan lama ke 109,2 dari 112,0.
Meski demikian, persepsi terhadap penghasilan saat ini justru masih naik menjadi 129,2 dari 125,0.
“Ini menunjukkan rumah tangga masih merasa punya penghasilan, tetapi mulai menahan belanja besar dan lebih berhati-hati terhadap prospek pekerjaan,” kata Josua.
Dari sisi ekspektasi, pelemahan terlihat pada harapan penghasilan, lapangan kerja, dan kegiatan usaha ke depan.
Kondisi ini, menurut Josua, mengindikasikan rasa aman terhadap prospek ekonomi mulai berkurang meski belum mengarah pada pengetatan konsumsi.
Ia juga menyoroti faktor eksternal seperti ketidakpastian global akibat konflik geopolitik, lonjakan harga energi, dan volatilitas pasar keuangan yang turut memengaruhi sentimen konsumen di dalam negeri.
Meski begitu, pola konsumsi rumah tangga masih terjaga. Porsi konsumsi meningkat menjadi 72,2%, sementara tabungan stabil di 17,6% dan cicilan menurun ke 10,2%. Hal ini menunjukkan masyarakat tetap belanja, namun dengan pola lebih selektif.
Baca Juga: Ekspektasi Konsumen Terhadap Ekonomi Enam Bulan ke Depan Melemah
“Penurunan IKK ini lebih seperti sinyal peringatan dini, bukan tanda krisis,” ujarnya.
Ke depan, konsumsi rumah tangga diperkirakan masih bertahan selama pasar tenaga kerja stabil, inflasi terkendali, dan pendapatan riil tidak tertekan.
Namun, jika ketidakpastian global berlanjut dan mulai memukul lapangan kerja serta harga kebutuhan pokok, pelemahan konsumsi berpotensi berlanjut dalam beberapa bulan mendatang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












