kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.808   -72,00   -0,43%
  • IDX 8.032   96,61   1,22%
  • KOMPAS100 1.132   15,02   1,34%
  • LQ45 821   5,36   0,66%
  • ISSI 284   5,77   2,08%
  • IDX30 427   0,41   0,10%
  • IDXHIDIV20 513   -1,95   -0,38%
  • IDX80 127   1,53   1,22%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 139   -0,29   -0,21%

Impor dari China dan Australia masih deras, neraca dagang diramal masih defisit


Minggu, 15 September 2019 / 15:53 WIB
Impor dari China dan Australia masih deras, neraca dagang diramal masih defisit
ILUSTRASI. Aktivitas pelabuhan Tanjung Priok


Reporter: Bidara Pink | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memprediksi neraca perdagangan Agustus 2019 masih defisit. Hal ini disebabkan ekspor yang masih lemah dan penetrasi barang impor dari China dan Australia yang masih deras.

"Saya perkirakan tidak terlalu berbeda dengan Juli 2019, tetapi agak sedikit lebih besar," ujar Direktur INDEF Enny Sri Hartati pada Kontan.co.id, Sabtu (14/9).

Baca Juga: Impor melandai, ini prediksi neraca dagang Agustus menurut pada ekonom

Kontribusi utamanya dinilai Enny masih pada terhambatnya komoditas ekspor terbesar Indonesia, yaitu crude palm oil (CPO) yang masih belum menemukan titik terang, sementara komoditas lain belum bisa dijadikan produk andalan dalam waktu cepat.

Lalu dari sisi impor, Enny juga melihat penetrasi impor dari China dan Australia masih luar biasa tinggi. Sehingga ini nantinya akan berimbas pada ketimpangan antara ekspor dan impor.

Kondisi ini akan bertahan hingga akhir tahun, apalagi pada bulan November dan Desember. Apalagi dengan kondisi global yang masih tertatih akibat perang dagang China dan Amerika Serikat (AS) yang tak kunjung mencapai rekonsiliasi.

Belum lagi ancaman resesi pada negara-negara lain. Bahkan, India juga sudah mengarah menuju resesi dan ada kemungkinan menjalar ke negara-negara lain.

Baca Juga: Impor melandai, neraca perdagangan Agustus diprediksi surplus

"Kalau ada potensi resensi, berarti ada potensi penurunan pertumbuhan ekonomi global. Otomatis diiringi permintaan ekonomi global yang menurun. Ini akan menyebabkan harga-harga komoditas, termasuk milik Indonesia, turun," tambah Enny.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×