kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.709.000   20.000   0,74%
  • USD/IDR 17.818   -194,00   -1,08%
  • IDX 6.008   121,62   2,07%
  • KOMPAS100 794   18,85   2,43%
  • LQ45 597   10,61   1,81%
  • ISSI 206   5,10   2,54%
  • IDX30 339   4,60   1,38%
  • IDXHIDIV20 418   3,54   0,86%
  • IDX80 90   1,96   2,24%
  • IDXV30 113   2,76   2,50%
  • IDXQ30 109   1,12   1,03%

Impor dari China dan Australia masih deras, neraca dagang diramal masih defisit


Minggu, 15 September 2019 / 15:53 WIB
ILUSTRASI. Aktivitas pelabuhan Tanjung Priok


Reporter: Bidara Pink | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memprediksi neraca perdagangan Agustus 2019 masih defisit. Hal ini disebabkan ekspor yang masih lemah dan penetrasi barang impor dari China dan Australia yang masih deras.

"Saya perkirakan tidak terlalu berbeda dengan Juli 2019, tetapi agak sedikit lebih besar," ujar Direktur INDEF Enny Sri Hartati pada Kontan.co.id, Sabtu (14/9).

Baca Juga: Impor melandai, ini prediksi neraca dagang Agustus menurut pada ekonom

Kontribusi utamanya dinilai Enny masih pada terhambatnya komoditas ekspor terbesar Indonesia, yaitu crude palm oil (CPO) yang masih belum menemukan titik terang, sementara komoditas lain belum bisa dijadikan produk andalan dalam waktu cepat.

Lalu dari sisi impor, Enny juga melihat penetrasi impor dari China dan Australia masih luar biasa tinggi. Sehingga ini nantinya akan berimbas pada ketimpangan antara ekspor dan impor.

Kondisi ini akan bertahan hingga akhir tahun, apalagi pada bulan November dan Desember. Apalagi dengan kondisi global yang masih tertatih akibat perang dagang China dan Amerika Serikat (AS) yang tak kunjung mencapai rekonsiliasi.

Belum lagi ancaman resesi pada negara-negara lain. Bahkan, India juga sudah mengarah menuju resesi dan ada kemungkinan menjalar ke negara-negara lain.

Baca Juga: Impor melandai, neraca perdagangan Agustus diprediksi surplus

"Kalau ada potensi resensi, berarti ada potensi penurunan pertumbuhan ekonomi global. Otomatis diiringi permintaan ekonomi global yang menurun. Ini akan menyebabkan harga-harga komoditas, termasuk milik Indonesia, turun," tambah Enny.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×