kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.633.000   -8.000   -0,30%
  • USD/IDR 18.094   64,00   0,35%
  • IDX 5.871   -1,94   -0,03%
  • KOMPAS100 763   0,05   0,01%
  • LQ45 582   -0,75   -0,13%
  • ISSI 202   -0,63   -0,31%
  • IDX30 330   -0,50   -0,15%
  • IDXHIDIV20 408   -2,45   -0,60%
  • IDX80 87   0,10   0,11%
  • IDXV30 110   -0,54   -0,49%
  • IDXQ30 106   -0,59   -0,55%

Ikut May Day, pekerja media bawa burung raksasa


Rabu, 01 Mei 2013 / 11:57 WIB
ILUSTRASI. Ilustrasi kepala daerah


Reporter: Adhitya Himawan | Editor: Asnil Amri

JAKARTA. Ada yang unik dalam perayaan Hari Buruh Sedunia atau May Day yang berlangsung di Jakarta hari ini (1/5). Keunikan itu diperlihatkan oleh massa gabungan dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta  dengan Federasi Serikat Pekerja Media Indonesia (FSPMI).

Kedua organisasi tersebut datang ke kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI) dengan mengusung simbol burung merpati raksasa yang akan di bawa menuju Istana Negara. Menariknya, kaki simbol burung merpati raksasa berwarna putih itu terikat pada rantai besi.

Kedua organisasi itu menilai, simbol itu bermakna adanya potensi intervensi ruang redaksi oleh pengusaha pemilik media yang juga menjadi politisi. Maklum, saat ini banyak media dikuasai oleh pengusaha yang juga notabene adalah politisi. “Ini tantangan bagi kami,” kata Muhammad Irham, Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Pekerja Media Independen (FSPMI) di Jakarta, Rabu (1/5).

Selain ancaman intervensi ruang redaksi, Irham menjelaskan kondisi pekerja media yang jauh dari kata sejahtera. Menurutunya, pekerja media harus memiliki wadah serikat pekerja agar bisa menyampaikan hak-haknya kepada pemilik media. “Butuh serikat pekerja media yang kuat untuk atasi hal ini, " terang Irham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×