kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Ideas: Pangkas utang, belanja negara perlu dibatasi


Senin, 16 September 2019 / 19:36 WIB
ILUSTRASI. Yusuf Wibisono, Direktur Eksekutif IDEAS


Reporter: Yusuf Imam Santoso | Editor: Tendi Mahadi

Ideas mencatat dalam satu dekade terakhir stok utang pemerintah membengkak dari Rp 1.586 triliun pada Juli 2009 menjadi Rp 4.604 triliun pada Juli 2019. Artinya pertumbuhan utang dalam sepuluh tahun terakhir hampir tiga kali lipat. 

Yusuf bilang melonjaknya stok utang pemerintah berakar dari rendahnya kinerja penerimaan perpajakan. Dengan tax ratio yang rendah, hanya di kisaran 10% dari PDB, mengindikasikan besarnya potensi pajak yang hilang, sekitar 2%-5% dari PDB per tahun. 

Di samping itu, Yusuf menilai besarnya belanja pemerintah terikat yang berada di kisaran 11% dari PDB mengindikasikan inefisiensi sektor publik yang masif.

Baca Juga: KEIN: Neraca dagang Indonesia terbeban defisit non-migas dengan China

“Seluruh penerimaan perpajakan setiap tahunnya habis hanya untuk membiayai belanja terikat yaitu belanja pegawai, barang, bunga utang, dan transfer ke daerah,” kata Yusuf.

Menurutnya selain menghemat belanja dengan ketidakmampuan menekan non discretionary expenditure yang signifikan, rendahnya penerimaan pajak telah membatasi belanja ekonomi-sosial yang penting dan mendorong ketergantungan pada utang yang semakin besar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×