kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.549.000   34.000   1,35%
  • USD/IDR 16.781   21,00   0,13%
  • IDX 8.934   74,42   0,84%
  • KOMPAS100 1.226   8,17   0,67%
  • LQ45 865   5,28   0,61%
  • ISSI 322   1,78   0,55%
  • IDX30 443   0,30   0,07%
  • IDXHIDIV20 516   -0,09   -0,02%
  • IDX80 136   0,92   0,68%
  • IDXV30 143   1,50   1,06%
  • IDXQ30 142   -0,22   -0,16%

Hingga 21 Mei 2021, BI lakukan quantitative easing sebesar Rp 88,91 triliun


Rabu, 26 Mei 2021 / 11:25 WIB
Hingga 21 Mei 2021, BI lakukan quantitative easing sebesar Rp 88,91 triliun
ILUSTRASI. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan hasil Rapat Dewan Gubernur BI di Jakarta (20/4/2021).


Reporter: Bidara Pink | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kondisi likuiditas cenderung longgar didorong kebijakan moneter yang akomodatif oleh Bank Indonesia (BI) dan kebijakan pemerintah dalam mendorong pemulihan ekonomi. 

BI tetap konsisten dalam menambah likuiditas (quantitative easing) ke perbankan di tahun ini. Dari awal 2021 hingga 21 Mei 2021, BI telah mengguyur likuiditas sebesar Rp 88,91 triliun. 

Tak hanya itu, BI juga melanjutkan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar perdana, sebagai bagian dari sinergi dengan pemerintah untuk pendanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2021. 

Per 21 Mei 2021, pembelian SBN di pasar perdana tercatat sebesar Rp 108,43 triliun yang terdiri dari Rp 32,97 triliun melalui mekanisme lelang utama dan Rp 75,46 triliun melalui mekanisme Greenshoe Option (GSO). 

Baca Juga: BI tahan suku bunga, analis rekomendasikan saham-saham emiten properti ini

Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan, kebijakan tersebut mendukung likuiditas perekonomian yang tercermin pada uang beredar dalam arti sempit (M1) dan uang beredar dalam arti luas (M2).

“M1 pada April 2021 tercatat tumbuh 17,4% yoy dan M2 pada bulan lalu tumbuh 11,5% yoy,” jelas Perry, Selasa (25/5) via video conference. 

Berdasarkan komponennya, pertumbuhan M2 teradi baik pada uang kartal, giro rupiah, maupun uang kuasi, seiring permintaan menjelang hari raya Idul Fitri. 

Pertumbuhan M2 juga dipengaruhi oleh operasi keuangan pemeirntah dan penerimaan pemerintah lainnya, serta kenaikan aktiva luar negeri bersih di tengah kontraksi pertumbuhan kredit. 

Dengan perkembangan tersebut, Perry optimistis kondisi likuiditas perbankan lebih dari cukup. Ini pun tercermin pada rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang tinggi yakni 22,67% dan pertumbuhan DPK sebesar 10,94% yoy. 

Selanjutnya: BI yakin pertumbuhan ekonomi kuartal II naik lebih dari 7%, ini penyebabnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Mitigasi, Tips, dan Kertas Kerja SPT Tahunan PPh Coretax Orang Pribadi dan Badan Supply Chain Management on Practical Inventory Management (SCMPIM)

[X]
×