kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.808   -72,00   -0,43%
  • IDX 8.032   96,61   1,22%
  • KOMPAS100 1.132   15,02   1,34%
  • LQ45 821   5,36   0,66%
  • ISSI 284   5,77   2,08%
  • IDX30 427   0,41   0,10%
  • IDXHIDIV20 513   -1,95   -0,38%
  • IDX80 127   1,53   1,22%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 139   -0,29   -0,21%

Hemat anggaran, dana Gernas Kakao pun dimungilkan


Selasa, 21 Juni 2016 / 13:14 WIB
Hemat anggaran, dana Gernas Kakao pun dimungilkan


Reporter: Noverius Laoli | Editor: Adi Wikanto

Jakarta. Kementerian Pertanian (Kemtan) memangkas anggaran program Gerakan Nasional (Gernas) Kakao atau coklat dari Rp 1,2 triliun pada tahun 2015 menjadi Rp 235 miliar pada tahun 2016. Ini merupakan dampak dari pemangkasan anggaran Kemtan sebesar Rp 3,29 triliun menjadi Rp 27,58 triliun. Dampaknya, anggaran Direktorat Jenderal Perkebunan Kemtan dipangkas sebesar Rp 750 miliar dari pagu awal sebesar Rp 1,7 triliun.

Dirjen Perkebunan Kemtan Gamal Nasir mengatakan pemangkasan anggaran Kemtan tahun ini berdampak pada minimnya anggaran Gernas Kakao menjadi Rp 235 miliar. Penurunan drastis anggaran Gernas kakao ini diharapkan tidak berdampak luas pada penurunan produktivitas kakao di Indonesia.

Ia mengatakan, penurunan signifikan program Gernas Kakao disebabkan pihak DPR dan Pemerintah memandang Kakao bukan sebagai komoditas perkebunan yang strategis dalam perekonomian nasional. "Padahal kontribusi kakao dapat menjaring devisa ekspor senilai US$ 1,3 miliar dan mengangkat taraf hidup kesejahteraan petani sebanyak 1,6 juta kepala keluarga," ujar Gamal, Senin (20/6).

Salah satu contoh ketidakpahaman DPR dan pemerintah terlihat dari program pengembangan kakao berkelanjutan yang tidak lagi fokus pada sembilan provinsi penghasil kakao, tapi DPR meminta dikembangkan di 25 provinsi sehingga dana Gernas Kakao terbagi ke banyak provinsi dan tidak efektif mendorong pengembangan kakao di sentra-sentra produksi sejak tahun 2009.

Gamal mengakui, bila dana program Gernas Kakao ini mendesak untuk ditingkatkan agar tidak terjadi penurunan produksi kakao di Indonesia. Sebab pemerintah telah menargetkan Indonesia sebagai produsen kakao terbesar di dunia pada tahun 2020 menggeser Pantai Gading yang saat ini mulai beralih ke tanaman kelapa sawit.

Saat ini Ditjenbun mencatat luas areal kakao sebesar 873.530 hektare (ha) dimana sebesar 24% atau sekitar 426.095 ha dikategorikan tidak menghasilkan atau rusak.

Sementara 446.265 ha merupakan tanaman yang belum menghasilkan. Sementara itu, luas areal kakao yang mengikuti program Gernas Kakao sebesar 27% dan sekitar 70% lebih masih belum tersentuh program Gernas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×