kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.740.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.708   -71,00   -0,40%
  • IDX 6.526   24,10   0,37%
  • KOMPAS100 849   6,96   0,83%
  • LQ45 645   5,86   0,92%
  • ISSI 228   -0,31   -0,14%
  • IDX30 360   3,72   1,04%
  • IDXHIDIV20 437   4,19   0,97%
  • IDX80 97   0,82   0,85%
  • IDXV30 121   0,51   0,43%
  • IDXQ30 114   1,21   1,07%

Hayono Isman: Ini hukuman publik bagi Demokrat


Kamis, 09 Januari 2014 / 16:46 WIB
ILUSTRASI. Pekerja berada di ketinggian proyek pembangunan properti di Jakarta, Jumat (02/06). KONTAN/Fransiskus Simbolon/02/06/2017


Reporter: | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat, Hayono Isman, menyadari tingkat dukungan terhadap Partai Demokrat memang kian menurun. Hayono mengaku partainya menerima itu semua sebagai hukuman publik atas adanya oknum-oknum Partai Demokrat yang terlibat kasus korupsi.

"Hasil survei itu (elektabilitas Demokrat turun) kami terima sebagai hukuman publik kepada Demokrat. Saya katakan bahwa korupsi itu yang melaksanakan oknum, bukan partai," ujar Hayono di Hotel Four Seasons, Jakarta, Kamis (9/1/2014).

Hayono yakin hingga saat ini Partai Demokrat masih tetap bersih. Oknum-oknum yang terlibat korupsi tidak pernah dibela oleh Partai Demokrat.  Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, kata Hayono, mencontohkan penegakan hukum tanpa pandang bulu dengan membiarkan proses penegakan hukum ke orang-orang terdekatnya.

Meski sudah berusaha membersihkan para kader dari praktek korupsi, nyatanya elektabilitas partai ini terus turun. "Ini karena persepsi masyarakat terhadap Partai Demokrat belum membaik. Penting ke depan untuk memastikan Demokrat bersih dari korupsi," kata bakal capres Demokrat itu.

Di dalam survei Libang Kompas selama tiga kali pada Desember 2012, Juni 2013, dan Desember 2013, elektabilitas Partai Demokrat terus turun. Pada survei pertama, elektabilitas Demokrat mencapai 11,1 persen. Angka ini turun 1 persen menjadi 10,1 persen pada periode kedua atau setelah melewati momentum penetapan tersangka mantan ketua umum partai, Anas Urbaningrum oleh KPK.

Survei periode ketiga, saat konvensi untuk mencari kandidat calon presiden untuk diusung Partai Demokrat sudah bergulir, perolehan dukungan suara partai tak juga tertolong. Survei ketiga justru mendapatkan kembali melorotnya dukungan untuk Partai Demokrat menjadi 7,2 persen. Capaian ini bahkan lebih rendah dari perolehan suara mereka pada Pemilu 2004 yang tercatat 7,45 persen. (Sabrina Asril)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×