kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Harga ayam rendah, Pinsar minta pemangkasan telur tetas 20 juta butir per minggu


Senin, 20 Januari 2020 / 16:57 WIB
Harga ayam rendah, Pinsar minta pemangkasan telur tetas 20 juta butir per minggu
ILUSTRASI. Distribusi DOC

Reporter: Lidya Yuniartha | Editor: Anna Suci

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Peternak tengah mengeluhkan rendahnya harga ayam. Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Indonesia Singgih Januratmoko mengatakan, sejak awal bulan, harga ayam di tingkat peternak hanya sekitar Rp 15.000 per kilogram (kg), lebih rendah dari harga acuan yang sebesar Rp 18.000 kg - Rp 20.000 per kg. Padahal, biaya produksi pun sudah mencapai Rp 19.000 per kg.

Singgih menyebut, harga yang rendah itu disebabkan produksi ayam yang oversupply. Menurutnya, pada Desember hingga Februari nanti, akan ada kelebihan produksi hingga 20 juta ekor per minggu. Sementara, kebutuhan  hingga Februari diperkirakan hanya sekitar 52 juta hingga 55 juta ekor.

Melihat adanya produksi yang berlebih, Singgih pun meminta agar adanya pemangkasan memangkas populasi  final stock (FS) dalam bentuk telur.

“Ini kerannya harus dikecilkan, jadi dipotong supply-nya. Jadi telur tetasnya dikurangi. Kami minta dipangkas 20 juta ekor per minggu,” tutur Singgih kepada Kontan.co.id, Senin (20/1).

Baca Juga: Akibat banjir, 50 truk ayam potong asal Ciamis tujuan Jakarta tertahan di Bekasi

Lebih lanjut dia bulang, harga di tingkat peternak akan tergantung pada kebijakan yang diambil pemerintah. Namun, kebijakan yang diambil pun ada kendala di tim ahli yang dibentuk Kementerian Pertanian (Kementan). Menurutnya, tim ahli tersebut memiliki data dan perhitungan produksi yang berbeda dengan peternak.

Singgih berpendapat, selama ini peternak sudah menyampaikan ke pemerintah bahwa ada kelebihan produksi. Namun, pendapat tersebut dibantah karena pemerintah memiliki data sendiri.

“Ini terkendala tim ahli yang dibentuk Kementan. Tim ahli ini kan orang pintar semua, tetapi mereka bukan peternak. Mereka tidak mengerti tata cara di lapangan. Mereka hitung berbeda dengan peternak. Mereka tidak percaya dengan data kami. Padahal kan mereka sudah melakukan kesalahan berkali-kali sejak 17 bulan yang lalu. Kalau sudah salah, dengarkanlah kami,” tegas dia.




TERBARU

Close [X]
×