kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.009,71   -2,33   -0.23%
  • EMAS988.000 -0,20%
  • RD.SAHAM -0.27%
  • RD.CAMPURAN 0.00%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.09%

Food estate, kolaborasi Jokowi - Prabowo wujudkan kedaulatan RI di bidang pangan


Selasa, 14 Juli 2020 / 05:05 WIB
Food estate, kolaborasi Jokowi - Prabowo wujudkan kedaulatan RI di bidang pangan


Reporter: Abdul Basith Bardan, Lidya Yuniartha, Syamsul Ashar | Editor: Syamsul Azhar

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali menegaskan peran sentral eks kompetitornya dalam dua kali pemilihan presiden yakni Prabowo Subianto dalam program food estate di Kalimantan Tengah

Presiden menyebut Prabowo Subianto yang kini menjabat sebagai Menteri Pertahanan (Menhan) menjadi leading sector dalam pengembangan lumbung pangan. Jokowi mengatakan lumbung pangan juga menjadi tanggung jawab Menhan.

Program yang dinamai food estate tersebut guna menjawab potensi krisis pangan yang disampaikan oleh Organisasi Pangan Dunia (FAO).

"Namanya pertahanan itu bukan hanya urusan alutsista, tetapi juga ketahanan di bidang pangan menjadi salah satu bagian dari itu," ujar Jokowi kepada wartawan di Istana Merdeka, Senin (13/7).

Kolaborasi antara Presiden Joko Widodo dengan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto mewujudkan food estate ini sekaligus sebagai upaya mewujudkan janji-janji mereka berdua selama berkampanye saat kompetisi pemilihan presiden tahun lalu.

Seperti kita tahu, baik pasangan Joko Widodo - Ma'ruf Amin maupun pasangan Prabowo Subianto - Sandiaga Uno memiliki visi dan misi untuk meningkatkan ketahanan pangan bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia, maupun meningkatkan kesejahteraan petani.

Dalam catatan KONTAN, pasangan Joko Widodo Ma'ruf Amin memikiki janji politik di bidang ketahanan pangan maupun meningkatkan kesejahteraan petani.  (lihat tabel).

Presiden memerintahkan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto mengawal program food estate di lahan 148.000 ha.

Seperti kita tahu Prabowo Subianto, Menteri Pertahanan Republik Indonesia mendapatkan tugas berat dari Presiden Joko Widodo untuk mengawal ketahanan pangan Negara Kesatuan Republik Indonesia atau sering disebut kedaulatan di bidang pangan.

Presiden memerintahkan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto mengawal program food estate di lahan 148.000 ha agar bisa memproduksi gabah hingga 592.000 ton -740.000 ton sekali panen atau 1,184 juta ton - 1,48 juta ton setahun.

Upaya mewujudkan ketahanan pangan sebelumnya juga sudah menjadi janji politik Prabowo Subianto dalam pemilu. Karena sekarang Prabowo Subianto juga ada dipemerintahan, maka menjadi kesempatan untuk mewujudkan janji-janji politik di bidang ketahanan pangan dan kesejahteraan petani, meskipun dalam satu visi misi di Kabinet Indonesia Maju pemerintahan Presiden Joko Widodo - dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin. (lihat tabel visi misi Prabowo-Sandi)

Presiden memerintahkan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto mengawal program food estate di lahan 148.000 ha.

Kamis 9 Juli pekan lalu, Presiden Joko Widodo bersama Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, dan Menteri Pekerjaan Umum Basuki Hadimoeljono dan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengadakan kunjungan kerja bersama di dua kabupaten di Provinsi Kalimantan Tengah yakni Kabupaten Kapuas, dan Kabupaten Pulang Pisau. 

Kunjungan kerja itu salah satunya ke Desa Bentuk Jaya, Kecamatan Dadahup, Kabupaten Kapuas.

"Hari ini, saya dari pagi sampai sore tadi ke Kabupaten Kapuas, kemudian juga sekarang ke Kabupaten Pulang Pisau di Provinsi Kalimantan Tengah. Untuk apa? Kami merencanakan food estate atau lumbung pangan yang mulai sudah dikerjakan dua minggu ini, terutama untuk urusan irigasinya dulu," kata Presiden Joko Widodo.  

Presiden menargetkan, tahun ini bisa menuyelesaikan persiapan lahan kurang lebih 30.000 hektare. Kemudian berikutnya akan dalam satu setengah tahun sampai maksimal dua tahun ke depan, luas lahan sawah akan ditambah lagi menjadin 148.000 ha, baik itu di Kabupaten Pulang Pisau maupun di Kabupaten Kapuas. 

"Untuk apa? Ini kita siapkan, saya kira kita tahu semuanya, FAO sudah memberikan peringatan bahwa krisis pangan akan melanda dunia karena pandemi corona Covid-19, juga karena memang adanya musim yang tidak bisa diatur dan diprediksi," kata Presiden. 

SELANJUTNYA>>>

Oleh sebab itu, pemerintah menyiapkan cadangan logistik nasional untuk mengantisipasi pasokan pangan. Nantinya food estate ini akan dikelola oleh sebuah badan, dan badan ini nanti SPV (special purpose vehicle)-nya bisa bekerja sama baik dengan pola investasi, baik nanti dikerjakan oleh BUMN, atau dengan skema yang lainnya. 

Pada kesempatan itu Presiden Joko Widodo juga kembali menegaskan penugasan kepada Prabowo Subianto untuk mendukung dan mengawal ketahanan pangan ini 

"Karena ini menyangkut cadangan strategis pangan kita, akan kita berikan kepada Pak Menhan (Prabowo Subianto) yang tentu saja didukung oleh Pak Menteri Pertanian dan juga Menteri PUPR. Daerah kami harapkan juga ada dukungan penuh dari gubernur maupun para bupati," tandas Presiden. 

Presiden memerintahkan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto mengawal program food estate di lahan 148.000 ha.

Presiden juga mengharapkan dengan cadangan strategis pangan nasional maka bisa mengatur kebutuhan pasokan pangan. 

"Kalau memang dalam negeri kekurangan pangan, akan disuplai dari sini, entah itu bisa padi, bisa singkong, bisa jagung, atau bisa cabai, semuanya akan di-manage dengan manajemen yang ada dan kalau sisa, itulah yang akan kita ekspor ke negara lain," kata Presiden. 

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto menyebut pandemi virus corona Covid-19 yang tangah melanda Indonesia dan bangsa-bangsa lain di dunia telah menyadarkan akan pentingnya ketahanan pangan nasional. 

"Swasembada Pangan bukan hanya sebuah jargon, melainkan suatu kebutuhan kita sebagai bangsa agar dapat bertahan menghadapi bencana global yang sedang melanda, juga untuk masa depan bangsa kita," kata Prabowo di akun media sosialnya.

Pada kesempatan sebelumnya, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimoeljono dan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo juga telah membahas teknis persiapan proyek food estate di Kalimantan Tengah ini pada 3 Juli 2020.
 
Menurut Basuki, Kementerian PUPR dan Kementerian Pertanian, telah aksi menyiapkan food estete di Kalimantan Tengah dengan total seluas 168.000 ha lahan eks pengembangan lahan gambut dulu. 

SELANJUTNYA>>>

"Sebagian besar sudah ditanami kelapa sawit sehingga tinggal tersisa sebanyak 148.000 ha. Diantara ada sungai Kapuas dan Barito, yakni di Blok A dan B yang tidak ada gambut yakni berupa tanah aluvia," terang Basuki.

Di tempat tersebut dari total 168.000 ha, sebanyak 85.000 sudah ditanami oleh petani eks transmigran tiap tahun. Sedangkan yang lainya 97.000 ha lahan kurang tenaga kerja sehingga berubah menjadi semak belukar. 

Presiden memerintahkan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto mengawal program food estate di lahan 148.000 ha.

"Sehingga ini perlu land clearing lagi, sehingga tidak perlu mencetak sawah baru. Karena dulunya sudah menjadi sawah," kata Basuki. 

Selainn itu ada 20.000 ha lahan potensi untuk ditanami tanaman pangan, tapi yang ditanami saat ini cuma 2.000 ha karena kurang petaninya.

Karena itulah, dalam rencana aksi food estate ini, Kementerian PUPR akan memperbaiki irigasi primer sekunder dan tersier.

Sementara Kementerian Pertanian akan melakukan praktik pengolahan lahan dengan mendatangkan dolomit untuk menaikkan PH tanah, mengerahkan alat pertanian, serta membuat saluran cacing di petak sawah karena lahan ini adalah bekas rawa.

Selain itu akan ada partisipasi dari BUMN untuk memberikan dukungan pada program food estate. "Aktornya adalah Menteri Pertanian karena akan mengembangkan lahan pertanian. 

Pada kesempatan itu Basuki juga menjelaskan Penugasan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dari Presiden untuk program food estate ini. 

"Menhan ditugas membantu menyiapkan tenaga kerja karena wilayah ini akan menjadi food estate yang modern, dengan skill tenaga kerja terlatih, tidak hanya untuk berproduksi tapi ada pasca produksi," katanya.

Pemilihan lokasi di Kalimantan Tengah selain karena ketersediaan lahan, tempat ini dekat dengan demand pangan terbesar di Indonesia yakni dari Pulau Jawa, misalnya pengiriman ke Pelabuhan di Semarang.

SELANJUTNYA>>>

Basuki juga menjelaskan, pada 2020 akan memprioritaskan perbaikan irigasi di lahan seluas 28.000 ha agar bisa ditanami pada musim tanam Oktober 2020 - Maret 2021. Sebagai catatan musim tanam di lahan ini hanya dua kali yakni April-September, dan Oktober-Maret. 
 
Sementara Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menjelaskan, tanaman pangan ini membutuhkan air sehingga membutuhkan irigasi yang bagus dan ini yang akan disiapkan oleh Kementerian PUPR. 

Presiden memerintahkan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto mengawal program food estate di lahan 148.000 ha.

"Setelah water management selesai, kami akan mulai melakukan budidaya, mulai dari persiapan petani dan prasarana termasuk alat-alat pertanian dan bibit, juga pupuk dan obat-obatan yang dibutuhkan," kata Syahrul

Menurut Syahrul dari total 164.000 ha food restate yang direncanakan, akan disiapkan sebanyak 30.000 ha tahun ini dimulai dari persiapan water managementnya. 

Syahrul Yasin menyatakan untuk food estate ini Kementerian Pertanian sudah menyiapkan jenis bibit yang akan dipakai. Bibit tersebut ia klaim sudah validitasnya untuk meningkatkan produksi pangan. 

"Kami siapkan bibit berkualitas tinggi," katanya. 

Mentan juga menyebutkan, pemerintah akan melakukan intervensi dalam cara-cara pertanian diantaranya menggunakan pupuk dolomit untuk mengatur keasaman tanah. 

Pada program food estate ini nantinya pemerintah tidak akan menggunakan cara tradisional tapi mekanisasi pertanian dengan menggunakan teknologi. Selain itu pemerintah menyiapkan sentra penggilingan padi, sehingga masuyarakat tidak hanya menjual berbentuk gabah tapi beras yang sudah dalam kemasan rapi. 

Selain tanaman padi Syahrul menegaskan di food estate ini juga akan di uji coba sayur-sayuran dan peternakan. 

Tidak hanya Kementerian Pertanian dan PUPR yang terlibat, program ini juga melibatkan Kementerian BUMN, maupun Kementerian Desa, Daerah Tertingal dan Transmigrasi yang akan ikut terlibat. "Karena ini dulunya adalah tanah transmigrasi," katanya. 

SELANJUTNYA>>>

Menteri Basuki menyebut pada program food estate dengan luasan 30.000 ha ini Kementerian PUPR mendapatkan tugas agar selesai dalam 2 tahun dan bisa terlihat hasilnya.

"Anggaran dikoordinir oleh Kementerian perekonomian dan Kementerian Keuangan. Di Kementerian PUPR sendiri ada anggaran Rp 49 miliar untuk desain dalam enam bulan ke depan," kata Basuki.

Pada anggaran tahap selanjutnya untuk melakukan rehabilitasi irigasinya pemerintah menyiapkan anggaran total sebesar Rp 2,9 triliun luasan lahan 169.000 ha tersebut.

Sementara Kementerian Pertanian pada tahun ini menyiapkan anggaran sebesar Rp 180 miliar untuk sarana produksi pertanian dan peralatan mesin pertanian (Alsintan) maupun kebutuahan pupuk pada 2020 ini. "Total kebutuhan Rp 2,1 triliun," kata Syahrul.

Secara terpisah Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kemtan) Suwandi menyebut pada tahap awal, pemerintah akan mulai melakukan intensifikasi di lahan yang ada seluas 28.321 hektare (ha).

Ia menargetkan produktivitas padi di lahan tersebut bisa meningkat dari saat ini sekitar 1,7 ton-2,9 ton per ha, menjadi 4 ton -5 ton per ha. 

"Dengan teknik budidaya, benih yang bagus, diharapkan produktivitas naik minimal 4 ton-5 ton," katanya kepada KONTAN, Minggu (12/7).

Kemtan sendiri menargetkan dari lahan seluas 28.321 ha yang akan ditanami tahun ini, terdiri dari 8.747 ha di kawasan eks Pengembangan Lahan Gambut (PLG) dan 19.574 ha di luar kawasan eks PLG. 

Presiden memerintahkan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto mengawal program food estate di lahan 148.000 ha.

Dari kesiapan irigasi, saat ini ada 19.103 ha yang sudah punya irigasi dan sisanya butuh perbaikan.

Dari kesiapan ini artinya pemerintah menargetkan tambahan produksi sebanyak 65.138,3 ton sekali panen, dengan dua kali panen maka tambahan sebanyak 130,276.6 ton.

Artinya dari kawasan food estate ini, pemerintah ingin ada produksi gabah sekitar 113.284 ton - 141.605 ton sekali musim panen dengan asumsi lahan yang siap sebanyak 28.321 ha. Namun dengan asumsi lahan sesuai target presiden yakni 30.000 ha maka tambahan produksi gabah sekali panen bisa mencapai 69.000 ton atau 138.000 ton setahun.

Nanti jika seluruh target lahan bisa beroperasi maksimal yakni 148.000 ha maka target produksi gabah bisa mencapai 592.000 ton -740.000 ton sekali panen atau 1,184 juta ton - 1,48 juta ton setahun.

Jika tugas berat Menteri Pertahanan Prabowo Subianto untuk mengawal food estate ini berhasil, tentu cukup untuk jadi modal tahun 2024.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×