kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.602.000   25.000   0,97%
  • USD/IDR 16.846   28,00   0,17%
  • IDX 8.937   11,28   0,13%
  • KOMPAS100 1.229   2,00   0,16%
  • LQ45 868   0,40   0,05%
  • ISSI 324   0,94   0,29%
  • IDX30 440   -0,98   -0,22%
  • IDXHIDIV20 517   -1,78   -0,34%
  • IDX80 137   0,24   0,18%
  • IDXV30 144   -0,01   0,00%
  • IDXQ30 140   -0,81   -0,58%

Eksportir curhat soal pendanaan dan daya saing


Kamis, 12 September 2013 / 07:46 WIB
Eksportir curhat soal pendanaan dan daya saing
ILUSTRASI. Penyebab Nyeri pada Tulang Dada. (Tribun Jateng/ Hermawan Handaka)


Reporter: Asep Munazat Zatnika | Editor: Uji Agung Santosa

JAKARTA. Masalah pendanaan dan daya saing menjadi dua hal yang dibahas dalam Forum Ekspor Industri Manufaktur di Kementerian Perindustrian (Kemperin), Rabu (11/9). Oleh karena itu sekitar 100 eksportir yang hadir dalam pertemuan itu meminta pemerintah membantu meningkatkan produksi dalam mengembangkan ekspor mereka.


Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Sofyan Wanandi yang hadir dalam pertemuan itu mengatakan, salah satu penyebab rendahnya daya saing eksportir  Indonesia adalah tingginya biaya yang dikeluarkan untuk ongkos non produksi. "Banyak kepala daerah maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang menghambat produktivitas," ujarnya. Selain pengusaha dan eksportir, hadir dalam forum tersebut sejumlah Menteri Perindustrian MS Hidayat, Menteri Keuangan Chatib Basri, dan Direktur Jenderal Bea Cukai Agung Kuswandono.


Sepertinya forum ini menjadi upaya pemerintah untuk mendekati eksportir sebagai langkah menurunkan defisit neraca perdagangan. Hidayat bilang, pemerintah bersedia membantu eksportir asal pengusaha juga membantu program pemerintah menggenjot ekspor. Dengan bantuan itu maka diharapkan dalam waktu enam bulan nilai ekspor Indonesia bisa terdongkrak.


Sementara itu Chatib bilang pihaknya sudah mencatat apa yang menjadi keluhan pengusaha termasuk menawarkan solusi, seperti masalah pendanaan melalui Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×