kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.769.000   -50.000   -1,77%
  • USD/IDR 17.586   33,00   0,19%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Ekspor impor bisa pakai ringgit, ini kata ekonom


Selasa, 17 Oktober 2017 / 19:33 WIB


Reporter: Adinda Ade Mustami | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) telah mengakomodasi importir atau eksportir Indonesia yang melakukan transaksi dengan Malaysia dan Thailand bisa menggunakan ringgit atau baht melalui Bank Appointed Cross Currency Dealer (Bank ACCD) tanpa perlu membayar dalam mata uang dollar AS. Fasilitas tersebut tertuang dalam Peraturan BI (PBI) Nomor 19/11/PBI/2017.

Melalui aturan mengenai transaksi perdagangan bilateral menggunakan mata uang lokal (Local Currency Settlement atau LCS), BI berharap ketergantungan penggunaan dollar AS berkurang sehingga mendukung stabilitas kurs rupiah. BI juga berharap, melalui aturan ini, pasar mata uang regional lebih berkembang dan akses pelaku usaha untuk membayar kewajibannya dalam mata uang lokal lebih luas.

Ekonom SKHA Institute for Global Competitiveness Eric Sugandi mengatakan, diterbitkannya PBI tersebut sebagai tindak lanjut penandatanganan nota kesepahaman antara BI dengan Bank Sentral Malaysia dan Bank Sentral Thailand tersebut bertujuan baik.

Namun, penggunaan rupiah, ringgit, dan baht dalam transaksi ekspor impor tidak bisa menggantikan posisi dollar AS sebagai mata uang global utama. "Setidaknya dalam jangka pendek dan menengah," kata Eric kepada KONTAN, Selasa (17/10).

Sebab menurutnya, negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, Malaysia, dan Thailand lebih banyak berdagang dengan negara-negara non ASEAN. Nilai perdagangan intra ASEAN tersebut lanjut dia hanya seperempat dari total nilai perdagangan yang dilakukan negara-negara ASEAN. Sisanya, didominasi dollar AS.

Ia juga melanjutkan, Indonesia juga memiliki kerjasama Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) dengan China, tetapi belum berkembang. "Tetapi memang secara bertahap Indonesia lebih baik mulai mengurangi ketergantungan pada dollar AS," tambah dia.

Eric juga mengatakan, Indonesia bisa melakukan diversifikasi perjanjian-perjanjian tersebut dengan negara lain, khususnya dengan negara-negara mitra dagang utama, seperti Eropa dan Jepang. Namun, ia meminta Indonesia mengefektifkan dulu fasilitas yang ada.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×