kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.633.000   -2.000   -0,08%
  • USD/IDR 18.012   -76,00   -0,42%
  • IDX 6.108   66,24   1,10%
  • KOMPAS100 801   11,17   1,41%
  • LQ45 609   8,67   1,45%
  • ISSI 211   1,35   0,64%
  • IDX30 343   4,64   1,37%
  • IDXHIDIV20 429   6,16   1,46%
  • IDX80 91   1,30   1,44%
  • IDXV30 117   1,58   1,37%
  • IDXQ30 111   1,61   1,48%

Ekonomi Kuartal II-2026 Diprediksi Hanya Tumbuh 4,9%, Ini Alasannya


Kamis, 16 Juli 2026 / 20:33 WIB
Ekonomi Kuartal II-2026 Diprediksi Hanya Tumbuh 4,9%, Ini Alasannya
ILUSTRASI. Pertumbuhan investasi yang masih positif pada kuartal II-2026 dinilai belum cukup untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi secara signifikan. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Pertumbuhan investasi yang masih positif pada kuartal II-2026 dinilai belum cukup untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi secara signifikan. Pemerintah dinilai perlu untuk meningkatkan kualitas investasi yang masuk agar tidak hanya memperbesar nilai investasi, tetapi juga mampu menciptakan lebih banyak lapangan kerja dan mendorong konsumsi masyarakat.

Lead Economist Bank Danamon Irman Faiz mengatakan, realisasi investasi sebesar Rp 511,8 triliun pada kuartal II-2026 yang tumbuh 7,1% secara tahunan (year on year/yoy) tetap menjadi sinyal positif di tengah ketidakpastian ekonomi global.

"Realisasi investasi sebesar Rp 511,8 triliun pada kuartal II-2026 yang tumbuh 7,1% yoy tentu menjadi sinyal positif dan tetap menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global. Namun, jika dicermati lebih dalam, kualitas pertumbuhan investasinya mulai menunjukkan perbedaan yang cukup jelas," ujar Faiz kepada Kontan, Kamis (16/7/2026).

Baca Juga: Kualitas Investasi Belum Optimal, Ekonomi RI Diproyeksi Tumbuh 5% di Kuartal II 2026

Menurutnya, pertumbuhan investasi saat ini lebih banyak ditopang oleh Penanaman Modal Asing (PMA) atau foreign direct investment (FDI), yang pada kuartal II-2026 tumbuh 27,5% secara tahunan. Sebaliknya, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) justru terkontraksi 7,8% yoy, atau menjadi kontraksi pertama sejak kuartal I-2021.

Faiz menilai kondisi tersebut menunjukkan investor asing masih optimistis terhadap prospek jangka panjang Indonesia, khususnya pada sektor hilirisasi dan industri berbasis sumber daya alam. Namun di sisi lain, pelaku usaha domestik masih cenderung menahan ekspansi akibat lemahnya permintaan domestik, tingginya biaya pendanaan, serta ketidakpastian ekonomi.

Meski investasi diperkirakan masih memberikan kontribusi positif terhadap produk domestik bruto (PDB) pada kuartal II-2026, Irman menilai dampaknya belum cukup besar untuk menutupi perlambatan konsumsi rumah tangga maupun aktivitas sektor manufaktur.

"Karena itu, kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 berada di kisaran 4,9% secara tahunan," katanya.

Faiz juga menyoroti kualitas investasi dari sisi penciptaan lapangan kerja. Menurutnya, penyerapan 742.293 tenaga kerja dari realisasi investasi pada kuartal II-2026 memang merupakan perkembangan yang positif. Namun, pemerintah perlu mengarahkan investasi agar lebih banyak masuk ke sektor-sektor yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

Baca Juga: Ketua Komisi XI DPR Bantah Patriot Bond Danantara Jadi Tempat Pencucian Uang

Saat ini, investasi masih terkonsentrasi pada sektor logam dasar, pertambangan, dan hilirisasi mineral yang secara karakteristik merupakan sektor padat modal.

"Sektor-sektor tersebut penting untuk meningkatkan nilai tambah industri, daya saing, dan ekspor nasional, tetapi kemampuan menyerap tenaga kerjanya relatif lebih rendah dibandingkan sektor manufaktur padat karya maupun sektor jasa," ujarnya.

Menurut Irman, strategi hilirisasi tetap perlu dilanjutkan karena memberikan manfaat struktural bagi perekonomian nasional. Namun, kebijakan tersebut perlu diimbangi dengan upaya menarik investasi ke sektor-sektor padat karya agar manfaat ekonomi yang dihasilkan lebih luas.

Ia menyebut sektor manufaktur, industri makanan dan minuman, tekstil, elektronik, hingga ekonomi digital memiliki potensi besar untuk menciptakan lapangan kerja sekaligus memperkuat daya beli masyarakat.

Selain itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan vokasi, kemudahan berusaha, serta kepastian regulasi juga dinilai menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas investasi.

"Dengan demikian, investasi yang masuk tidak hanya meningkatkan output ekonomi, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja formal yang lebih luas dan berkualitas sehingga tingkat pendapatan masyarakat dan daya beli dapat meningkat secara lebih stabil ke depan," pungkas Faiz.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×