kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.679.000   50.000   1,90%
  • USD/IDR 17.939   -8,00   -0,04%
  • IDX 6.344   -7,43   -0,12%
  • KOMPAS100 833   -2,31   -0,28%
  • LQ45 631   -3,13   -0,49%
  • ISSI 219   -0,63   -0,29%
  • IDX30 354   -1,64   -0,46%
  • IDXHIDIV20 433   -1,50   -0,35%
  • IDX80 95   -0,31   -0,33%
  • IDXV30 120   -0,41   -0,34%
  • IDXQ30 113   -0,60   -0,53%

Ekonomi Indonesia turun kelas, Faisal Basri bicara soal berkah di balik itu


Jumat, 16 Juli 2021 / 16:28 WIB
ILUSTRASI. Faisal Batubara atau lebih dikenal sebagai Faisal Basri adalah ekonom dan politikus asal Indonesia.


Reporter: Bidara Pink | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Ekonom senior INDEF Faisal Basri menyiratkan ada berkah di balik turun kelasnya Indonesia menjadi negara berpenghasilan menengah ke bawah (lower middle-income country). Hal ini, terkait dengan pinjaman (loan). 

Dengan kondisi pemulihan ekonomi yang masih tersendat dan masih tingginya kasus Covid-19, bukan tak mungkin Indonesia masih akan tarik utang luar negeri (ULN). 

Turun kelasnya Indonesia menjadi negara berpenghasilan menengah ke bawah ini, memungkinkan Indonesia untuk menarik utang bilateral maupun multilateral dengan bunga yang lebih rendah. 

“Kalau ULN saya lihat ke depannya masih naik. Sebagian dari bilateral, seperti dari World Bank, ADB. Namun, ini tidak terlalu masalah karena mendekati hibah. Ini hikmah kita turun kelas jadi lower middle-income country. Jadi kita dianggap tidak semampu waktu kita di upper middle-income country,” terang Faisal, Jumat (16/7). 

Baca Juga: Ditengah pandemi Covid-19, konsesi GSP kepada Indonesia tak banyak berubah

Faisal menyarankan agar pemerintah memanfaatkan momentum ini, daripada pemerintah mengeluarkan surat utang untuk dibeli oleh asing. Pasalnya, ini relatif lebih berisiko. 

Untuk membeli surat utang Indonesia, investor asing pasti akan menimbang dengan seksama. Hal ini terkait proses pemulihan ekonomi, juga ketahanan ekonomi Indonesia. Bisa saja, kalau mereka ragu, sewaktu-waktu melepas kepemilikan mereka. 

Apalagi, hingga Maret 2021, porsi kepemilikan surat utang pemerintah oleh asing sebesar 22,9% dan ini merupakan kepemilikan yang cukup besar.

“Ini akan berpotensi dilepas oleh mereka kalau mereka melihat prospek pemulihan ekonomi yang lebih lama atau tak menentu. Nah, ini pengaruhnya ke sana,” tandasnya. 

Selanjutnya: Program perlindungan sosial melalui APBN tahan laju kemiskinan dan pengangguran

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×