kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.781.000   -38.000   -2,09%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Ekonomi Indonesia Tertekan oleh Kebijakan Perang Dagang


Jumat, 04 April 2025 / 19:21 WIB
Ekonomi Indonesia Tertekan oleh Kebijakan Perang Dagang
ILUSTRASI. Sejumlah truk trailer menunggu muatan peti kemas di lapangan penumpukan peti kemas (container yard) PT Terminal Petikemas Surabaya, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (18/3/2025).Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada bulan Februari 2025 mengalami surplus sebesar 3,12 miliar dolar AS dengan nilai ekspor pada bulan Februari 2025 sebesar 21,98 miliar dolar AS dan nilai impor sebesar 18,86 miliar dolar AS. ANTARA FOTO/Didik Suhartono/nz


Reporter: Indra Khairuman | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perang dagang yang disebabkan oleh kebijakan proteksionisme Amerika Serikat telah menimbulkan ketidakpastian yang signifikan bagi ekonomi Indonesia. Kenaikan tarif impor yang drastis dapat mengganggu daya saing ekspor dan memengaruhi berbagai sektor industri.

Kebijakan yang dialksanakan oleh pemerintahan Trump menandai perubahan besar dalam dinamika ekonomi global. Menurut Tauhid Ahmad, Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), “Ada beberapa indikasi yang saya kira terjadi dengan situasi geopolitik Trump,” ujarnya dalam acara diskusi bertajuk Waspada Genderang Perang Dagang yang diselenggarakan oleh INDEF, Jumat (4/4). Hal ini termasuk pengurangan bantuan luar negeri dan Keputusan keluar dari organisasi internasional.

Ini menunjukkan bahwa pendekatan baru ini berbeda dari presiden-presiden sebelumnya dan berpotensi memengaruhi hubungan perdagangan dengan banyak negara, termasuk Indonesia.

Baca Juga: Perang Dagang Global Ancam Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Ketidakpastian yang muncul akibat kebijakan ini jauh lebih besar dibanding dengan krisis sebelumnya, seperti COVID-19 dan konflik Rusia-Ukraina.

“Uncertainty, ketidakpastian ekonomi ini jauh lebih besar karena orang mau investasi dengan kondisi sekarang,” kata Tauhid. Hal ini menciptakan keraguan di kalangan investor dan pelaku bisnis, yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Dampak dari perang dagang ini juga terlihat dalam neraca perdagangan Indonesia, meski tarif yang dikenakan mungkin tidak setinggi negara lain.

“Indonesia betul agak moderat ya, tarif rate 32% hanya sekitar 0,9% dari total ekspornya,” ucapnya.

Namun, sebagai salah satu dari lima negara besar, Indonesia perlu mencari cara untuk mengalihkan tujuan ekspor ke negara lain untuk mengurangi ketergantungan pada pasar Amerika.

Baca Juga: Hadapi Tarif Baru Trump, Prabowo Siapkan 3 Strategi Perkuat Ekonomi Indonesia

Akumulasi berbagai tarif ini diperkirakan akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi global. Tauhid Ahmad menegaskan bahwa ekonomi dunia akan tetap cukup dalam, dan jika kondisi ini berlanjut, Indonesia mungkin akan merasakan dampak yang lebih besar dalam segi perdagangan dan ivestasi.

Maka dari itu, langkah mitigasi yang cepat sangat dibutuhkan untuk menghadapi tantangan yang ada.

Ia juga menekankan pentingnya respon pemerintah terhadap isu perdagangan yang muncul.

“Pemerintah harus secara jelas menyampaikan bahwa tarif ini tidak adil,” tambahnya.

Baca Juga: Perang Dagang Kembali Memanas, DPR Minta Pemerintah Aktif di WTO

Selanjutnya: Bursa Asia Melemah Sepekan, Sentimen Tarif Trump dan Data Ekonomi AS Jadi Penekan

Menarik Dibaca: Garuda Metalindo Bukukan Kinerja Solid di Kuartal IV 2024, Ekspor Jadi Penopang

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×