kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Ekonom: Ada peluang harga BBM Premium naik


Rabu, 01 Juli 2015 / 20:35 WIB


Reporter: Margareta Engge Kharismawati | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. Inflasi tahunan pada akhir Juni 2015 tercatat 7,26%, naik dari posisi bulan sebelumnya 7,15%. Belum ada ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk menurunkan suku bunga acuannya.

Ekonom Bank of America Corp Hak Bin Chua menilai, BI belum mempunyai peluang untuk menurunkan acuan suku bunganya dari posisi 7,5%. Inflasi tahunan yang masih di angka 7% masih jauh dari target BI 3%-5%.

Hal ini belum ditambah dengan adanya peluang pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Terakhir kali pemerintah menaikkan harga BBM pada 28 Maret. "Kita estimasi harga pasar RON88 sekitar Rp 7.800 per liter," terangnya dalam siaran pers, Rabu (1/7).

Harga ini mengacu pada harga minyak dunia dan rupiah yang sekitar 5,4% lebih tinggi dari harga BBM saat ini Rp 7.400 per liter. Apabila ini terjadi maka inflasi akan kembali naik bila pemerintah kembali menaikkan harga BBM premium.

Di sisi lain, Ekonom Bank Danamon Dian Ayu Yustina mengakui harga makanan bergejolak menjadi penyumbang inflasi tertinggi menyambut Lebaran. Meskipun begitu, inflasi Juni 0,54% ini berada dalam prediksi, bahkan lebih baik dari ekspektasi pasar. Perlambatan ekonomi menolong inflasi berada dalam tekanan yang rendah.

Di sisi lain upaya pemerintah untuk menjaga pasokan pangan ternyata bekerja dengan baik. "Hingga akhir tahun kita menjaga prediksi inflasi Indonesia 4,1%," paparnya.


 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×