kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.540.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 18.097   17,00   0,09%
  • IDX 5.439   51,35   0,95%
  • KOMPAS100 703   6,01   0,86%
  • LQ45 547   2,49   0,46%
  • ISSI 186   3,05   1,66%
  • IDX30 306   1,13   0,37%
  • IDXHIDIV20 403   3,67   0,92%
  • IDX80 81   0,56   0,70%
  • IDXV30 112   1,52   1,37%
  • IDXQ30 102   0,58   0,58%

Dinilai Membingungkan, BI Ungkap Alasan Kombinasi Tahan Suku Bunga dan Pangkas GWM


Jumat, 23 Oktober 2026 / 15:28 WIB
Dinilai Membingungkan, BI Ungkap Alasan Kombinasi Tahan Suku Bunga dan Pangkas GWM
ILUSTRASI. Logo Bank Indonesia (BI) di gedung BI, Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) menjelaskan alasan di balik kombinasi kebijakan moneter terbarunya yang dinilai membingungkan oleh sejumlah pelaku pasar.

Bank sentral menegaskan, bauran kebijakan tersebut dirancang untuk menyelaraskan suku bunga acuan, operasi moneter, dan pengelolaan likuiditas perbankan agar transmisi kebijakan ke perekonomian berjalan lebih efektif.

Pada pekan ini, BI mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate, menaikkan suku bunga fasilitas simpanan overnight, memangkas giro wajib minimum (GWM) perbankan, serta memberikan diskon biaya lindung nilai valuta asing yang lebih besar.

Baca Juga: Bea Cukai, BNN dan Polri Menindak Kapal Pengangkut 1,16 Ton Ketamin di Perairan Sumut

Kombinasi kebijakan tersebut sempat memicu pertanyaan di kalangan ekonom. Bank of America, misalnya, menggambarkan langkah BI sebagai kebijakan “tahan, naikkan, dan turunkan sekaligus” atau hold, hike and cut all at once.

Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Firman Mochtar mengatakan, penyesuaian tersebut merupakan bagian dari strategi untuk menyelaraskan suku bunga kebijakan dengan strategi operasi moneter bank sentral.

“Ini adalah strategi BI untuk menyelaraskan dan menyinkronkan suku bunga kebijakan kami dengan strategi operasi moneter,” ujar Firman dalam konferensi pers, Jumat (23/10/2026), seperti dikutip Reuters.

Firman menjelaskan, kenaikan suku bunga fasilitas simpanan dilakukan untuk mengembalikan koridor suku bunga yang simetris.

Dengan penyesuaian tersebut, suku bunga fasilitas simpanan dan fasilitas pinjaman masing-masing berada 75 basis poin (bps) dari BI Rate.

Baca Juga: Antisipasi Inflasi Jelang Nataru, Pemerintah Perkuat Rantai Pasok Pangan

Sebelumnya, BI mempertahankan selisih yang lebih lebar, yakni 100 bps antara BI Rate dan suku bunga fasilitas simpanan.

Kebijakan tersebut berkaitan dengan penempatan dana pemerintah di perbankan komersial untuk meningkatkan likuiditas perbankan.

Namun, sebagian dana tersebut telah ditarik menyusul pergantian kepemimpinan di Kementerian Keuangan.

Karena itu, menurut Firman, penyelarasan koridor suku bunga dengan sasaran moneter BI menjadi langkah yang lebih tepat ke depan.

Penyesuaian koridor suku bunga tersebut juga dinilai sejalan dengan rencana BI memangkas GWM perbankan.

Baca Juga: Ekonomi Indonesia Masuk Tujuh Besar Dunia, Benarkah Daya Beli Rakyat Kuat?

Tambahan likuiditas diperkirakan Rp 90 triliun

BI berencana memangkas GWM secara kumulatif sebesar 200 bps hingga Desember 2026. Namun, perubahan skema insentif likuiditas membuat rasio GWM efektif diperkirakan turun menjadi sekitar 2%, atau sekitar 100 bps lebih rendah dibandingkan level sebelumnya.

Firman memperkirakan kebijakan tersebut akan menambah likuiditas perbankan sekitar Rp 90 triliun.

Menurut dia, tambahan likuiditas itu telah diperhitungkan agar tetap sejalan dengan BI Rate dan aktivitas ekonomi.

“Tambahan likuiditasnya tidak masif. Kami sudah menghitungnya dan ini konsisten dengan BI Rate serta aktivitas ekonomi,” kata Firman.

Selain mengatur likuiditas melalui GWM, BI juga ingin mendorong perbankan mengalokasikan dana ke instrumen berjangka lebih pendek, alih-alih menempatkan kelebihan likuiditas pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Baca Juga: Kasus ISPA Akibat Karhutla Tembus 333.470, Kemenkes Siagakan 1.691 Puskesmas

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan, BI telah mengurangi jumlah SRBI yang beredar dari Rp 1.096 triliun pada Juli 2026 menjadi di bawah Rp 950 triliun saat ini.

Sebelumnya, BI menaikkan imbal hasil SRBI untuk menarik aliran modal asing. Namun, pengurangan jumlah SRBI yang beredar kini menjadi bagian dari upaya mengelola operasi moneter dan mendorong perbankan mengoptimalkan penempatan dana.

Sementara itu, ekonom Bank of America kemudian menilai bauran kebijakan BI tersebut tidak sepenuhnya bertentangan seperti kesan awal.

Dalam catatan risetnya, mereka menegaskan bahwa pemangkasan GWM tidak serta-merta menunjukkan berkurangnya kesiapan BI untuk menaikkan suku bunga acuan apabila diperlukan.

Dengan demikian, pemangkasan GWM lebih diarahkan untuk mengelola likuiditas perbankan, sedangkan BI Rate tetap menjadi instrumen utama untuk merespons perkembangan inflasi dan kondisi ekonomi.

Baca Juga: Zulhas Ungkap Biaya Produksi Pangan RI Lebih Mahal dari Negara Lain

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?

Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×