Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN-JAKARTA. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat akumulasi kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mencapai 333.470 kasus per 21 Oktober 2026. Kasus tersebut tersebar di 68 kabupaten/kota di tujuh provinsi terdampak kabut asap.
Berdasarkan data Kemenkes, sebanyak 258.298 kasus ISPA terjadi pada penduduk berusia di atas lima tahun, sedangkan 75.172 kasus lainnya menimpa anak berusia 0–5 tahun. Peningkatan kasus ini menjadi perhatian pemerintah di tengah memburuknya kualitas udara akibat kebakaran hutan dan lahan.
Untuk mengantisipasi dampak kesehatan yang lebih luas, Kemenkes bersama pemerintah daerah menyiagakan fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah terdampak. Kesiapan tersebut mencakup 1.691 puskesmas, 360 rumah sakit rujukan, serta 87 laboratorium kesehatan masyarakat atau Labkesmas.
Baca Juga: Zulhas Ungkap Biaya Produksi Pangan RI Lebih Mahal dari Negara Lain
Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes Then Suyanti mengatakan, pemerintah memastikan fasilitas pelayanan kesehatan dapat diakses masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap karhutla.
"Untuk penyiapan layanan kesehatan, tentunya kita cek bagaimana kesiapan pos layanan kesehatan, seperti di seluruh puskesmas di wilayah terdampak yaitu ada 1.691 puskesmas yang kita siagakan," ujar Then dalam keterangan resminya, Kamis (22/10/2026).
Selain fasilitas pelayanan kesehatan, pemerintah juga menyiapkan 491 rumah oksigen di sejumlah wilayah terdampak. Kemenkes turut memantau kesiapan tenaga kesehatan serta mobilisasi logistik medis untuk mendukung penanganan masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan.
Dari sisi sumber daya manusia, Kemenkes mencatat ketersediaan 18.547 dokter umum beserta tenaga dokter spesialis, termasuk spesialis mata, paru, telinga, hidung, dan tenggorokan (THT), serta dermatologi dan venereologi (DVE). Masyarakat yang membutuhkan bantuan kegawatdaruratan juga dapat mengakses layanan Public Safety Center (PSC) 119.
Di sisi lain, kualitas udara di sejumlah daerah terdampak masih perlu diwaspadai. Pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kemenkes per 22 Oktober 2026 pukul 08.40 WIB menunjukkan sejumlah wilayah masuk kategori berbahaya, dengan konsentrasi partikel halus PM2.5 di atas 300.
Baca Juga: Kredit Rakyat Jadi Rp 400 Triliun, Pembiayaan UMKM Ditargetkan Rp 200 Triliun di 2027
Partikel PM2.5 dari asap karhutla dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan dan memicu berbagai gangguan kesehatan. Paparan asap juga berisiko menyebabkan iritasi mata, memperburuk asma dan penyakit paru, serta meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Untuk membantu masyarakat mengantisipasi paparan polusi, Kemenkes mengimbau warga memantau kualitas udara melalui ISPUnet yang telah terintegrasi dengan aplikasi SATUSEHAT. Masyarakat juga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker saat berada di luar, serta memperbanyak konsumsi air putih.
Kemenkes mengingatkan masyarakat agar segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami sesak napas atau batuk yang semakin memburuk. Upaya perlindungan juga perlu diprioritaskan bagi kelompok rentan yang lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap.
"Kita harus lindungi kelompok rentan karena lebih gampang menderita penyakit dan kurangi asap yang masuk ke dalam rumah, termasuk kenali gangguan kesehatan," tambah Then.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













