Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Rabu (21/10/2026), meskipun nilai tukar rupiah tertekan setelah muncul peringatan dari MSCI terkait status pasar saham Indonesia dalam indeks global.
Berdasarkan survei Reuters terhadap 29 ekonom pada 13–19 Oktober 2026, sebanyak 15 ekonom memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga 7-Day Reverse Repo Rate di level 5,75%. Mayoritas tipis tersebut menilai pelemahan rupiah setelah peringatan MSCI belum cukup kuat untuk mengubah keputusan kebijakan moneter BI.
Para ekonom juga memperkirakan BI mempertahankan suku bunga deposit facility di level 4,75% dan suku bunga lending facility sebesar 6,50%.
Rupiah tercatat melemah sekitar 8% sepanjang tahun ini. Tekanan terhadap mata uang Garuda semakin besar setelah MSCI pada Jumat (16/10/2026) menyatakan sedang mempertimbangkan perubahan status Indonesia dari kategori emerging markets atau pasar negara berkembang menjadi standalone.
Baca Juga: DJP Belum Bahas Besaran Batas PTKP 2027 Setelah 10 Tahun Tak Naik, Jadi Dikerek?
Indonesia telah masuk dalam kategori pasar negara berkembang MSCI sejak 1989. Peringatan tersebut mengejutkan pelaku pasar domestik dan memicu gejolak di pasar keuangan.
Sejumlah ekonom kemudian mengubah proyeksi mereka pada Jumat dan Senin dari perkiraan suku bunga tetap menjadi kemungkinan kenaikan suku bunga. Citibank, misalnya, yang sebelumnya memperkirakan BI tidak mengubah suku bunga, kini memproyeksikan kenaikan 50 basis poin sebagai langkah antisipasi.
Inflasi Terkendali Jadi Pertimbangan BI
Meski tekanan terhadap rupiah meningkat, kondisi inflasi Indonesia dinilai masih relatif terkendali. Inflasi umum pada September 2026 tercatat sebesar 3,28%, masih berada dalam rentang sasaran BI sebesar 1,5%–3,5%.
Sementara itu, inflasi inti melandai menjadi 2,84%. Kondisi tersebut dapat memberikan ruang bagi BI untuk mempertahankan suku bunga acuan, setidaknya dalam waktu dekat.
Miguel Chanco, kepala ekonom Asia berkembang di Pantheon Macroeconomics yang berbasis di Inggris, menilai dampak peringatan MSCI terhadap kebijakan moneter BI belum dapat dipastikan.
“Menurut saya, masih terlalu dini untuk menyatakan bahwa hal ini akan berdampak pada kebijakan moneter ... tetapi jelas, kabar pada Jumat telah membuat situasi menjadi lebih rumit,” ujar Chanco.
Ia menambahkan, di luar gejolak akibat peringatan MSCI yang mengejutkan pasar, kondisi fundamental ekonomi belum menunjukkan kebutuhan mendesak untuk menaikkan suku bunga.
“Terlepas dari peristiwa ini ... yang merupakan kejutan bagi semua pihak, fundamental ekonomi masih belum menunjukkan kepada saya bahwa kenaikan suku bunga diperlukan, terutama setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga sebesar 100 basis poin pada awal tahun ini,” katanya.
Baca Juga: Mendagri Respons Usulan Malaysia untuk Beri Tekanan Finansial ke Korporasi Karhutla
IHSG Tertekan Setelah Peringatan MSCI
Tekanan di pasar keuangan juga tercermin dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Indeks acuan pasar saham Indonesia tersebut, yang telah menjadi salah satu indeks dengan kinerja terburuk di dunia sepanjang tahun ini, kembali melemah tajam pada awal perdagangan Senin (19/10/2026).
IHSG turun sekitar 5% pada awal perdagangan Senin, setelah anjlok 11,6% pada Jumat (16/10/2026). Penurunan pada Jumat menjadi yang terdalam dalam satu hari sejak Januari 1998.
Gejolak tersebut menambah tekanan terhadap stabilitas pasar keuangan domestik. Namun, sejumlah ekonom menilai BI masih memiliki instrumen lain untuk menjaga stabilitas rupiah tanpa harus menaikkan suku bunga acuan.
Langkah yang dapat ditempuh antara lain menurunkan biaya lindung nilai atau hedging valuta asing melalui BI, mendorong penggunaan mata uang selain dolar AS dalam transaksi internasional, serta memanfaatkan cadangan devisa.
Reuters mencatat cadangan devisa Indonesia mencapai US$ 146,3 miliar. Besarnya cadangan devisa tersebut dapat menjadi salah satu penyangga untuk meredam tekanan terhadap rupiah.
Mayoritas Ekonom Prediksi Suku Bunga Naik Sebelum Akhir Tahun
Meskipun mayoritas responden memperkirakan suku bunga tetap pada Oktober, ekspektasi terhadap arah kebijakan BI hingga akhir 2026 cenderung lebih ketat.
Sebanyak 15 dari 22 ekonom yang disurvei memperkirakan suku bunga acuan akan naik dari 5,75% menjadi 6,00% atau lebih sebelum akhir tahun.
Proyeksi tersebut telah muncul sebelum tekanan tambahan akibat peringatan MSCI. Sejumlah faktor yang mendasarinya adalah kenaikan harga minyak dunia yang berpotensi mendorong inflasi serta sikap hawkish atau ketat dari bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), yang dapat memperbesar tekanan terhadap rupiah.
Baca Juga: Celios Sebut Risiko Utang Pemda Bisa Menekan Fiskal dan Ekonomi Daerah
Namun, belum terdapat konsensus yang jelas mengenai arah suku bunga setelah 2026. Proyeksi median ekonom menunjukkan suku bunga acuan berpotensi bertahan di level 6,00% sepanjang 2027.
Lavanya Venkateswaran, ekonom senior ASEAN di OCBC Bank, bahkan memajukan perkiraan kenaikan suku bunga yang sebelumnya diprediksi terjadi pada Desember menjadi Rabu (21/10/2026).
“Pada akhirnya, salah satu prioritas mereka yang sangat jelas adalah stabilitas rupiah,” ujar Venkateswaran.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














