Reporter: Siti Masitoh | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja ekspor nonmigas Indonesia pada September 2026 mencatatkan pertumbuhan positif yakni mencapai US$ 26,64 miliar atau naik 12,39% year on year (yoy) atau dibandingkan periode sama tahun lalu. Kenaikan ekspor tersebut terutama ditopang oleh sektor industri pengolahan, di tengah penurunan ekspor sektor pertanian serta pertambangan.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono menyampaikan, berdasarkan sektornya, industri pengolahan menjadi motor utama pertumbuhan ekspor nonmigas.
Nilai ekspor sektor ini mencapai US$ 23,27 miliar pada September 2026, meningkat 16,78% yoy atau dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 19,93 miliar.
“Sektor industri pengolahan terbesar, yaitu mencapai US$ 23,27 miliar, kontribusinya terhadap ekspor nonmigas pada bulan September 2026 sebesar 87,36% yoy,” tutur Ateng dalam konferensi pers, Senin (2/11/2026).
Baca Juga: Manufaktur RI Makin Ekspansif, Tapi Rekrutmen Pekerja Malah Loyo
Ia mencatat, kenaikan ekspor industri pengolahan tersebut memberikan andil kenaikan sebesar 13,56% yoy terhadap total ekspor.
Adapun peningkatan ekspor pada industri pengolahan secara tahunan terutama disebabkan oleh meningkatnya beberapa nilai ekspor yaitu minyak kelapa sawit, tembaga, nikel, kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian serta juga dari aluminium.
Sebaliknya, ekspor sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan justru mengalami kontraksi. Nilai ekspor sektor ini turun 18,14% yoy, dari US$ 620 juta pada September 2025 menjadi US$ 510 juta pada September 2026.
Penurunan juga terjadi pada sektor pertambangan dan lainnya. Nilai ekspor sektor ini tercatat sebesar US$ 2,86 miliar, turun 9,37% yoy dibandingkan September 2025 yang mencapai US$ 3,15 miliar.
Baca Juga: DPR Pertanyakan Urgensi Pemberian Insentif Rp 1 Triliun Bagi Daerah Pendukung MBG
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














