kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Dewan Karet Indonesia minta penyerapan dalam negeri diperbesar


Senin, 06 Agustus 2018 / 19:28 WIB

Dewan Karet Indonesia minta penyerapan dalam negeri diperbesar
ILUSTRASI. Petani menyadap getah karet

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Faktor eksternal dari luar negeri menyebabkan prospek industri berbasis karet jadi remang. Pasalnya, terdapat kekhawatiran dari perang dagang Amerika Serikat dengan China, serta adanya pelambatan sektor manufaktur di Eropa. Akibatnya permintaan karet dunia menjadi turun. Dus, pemerintah harus mencari cara untuk meningkatkan penyerapan dalam negeri.

"Selama krisis ini belum selesai, perang dagang, dan kestabilan di Eropa belum jalan, sektor manufaktur itu belum jalan, dalam situasi itu kebutuhan komoditas itu tidak akan beranjak," kata Ketua Umum Dewan Karet Indonesia (Dekarindo) Azis Pane kepada Kontan.co.id, Senin (6/8).

Mengutip pemberitaan Kontan sebelumnya Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) menyampaikan terjadi penurunan kinerja produsen karet di paruh pertama 2018 terjadi secara nasional. Dalam catatan Gapkindo, ekspor karet sampai Juni 2018 turun 8% dari tahun lalu.

Penurunan ini terfleksi pada sejumlah laporan keuangan emiten pada sektor karet. Misalnya pada PT Kirana Megatara Tbk (KMTR) yang periode semester-i 2018 lalu mengalami koreksi penjualan karet sebanyak 22,7% jadi Rp 5,16 triliun atau setara 260.103 ton. Padahal setahun sebelumnya sempat menjual hingga Rp 6,68 triliun atau setara volume 262.103 ton.

Menanggapi hal tersebut, Azis menyatakan pengaruhnya murni dari sisi luar negeri. Pasalnya kondisi perang dagang AS-China membuat China defensif dan berusaha mengurangi beban devisa negara. Tak hanya itu, efek Brexit dari Inggris ternyata berpengaruh pada industri otomotif di Eropa.

Karena itu, Azis berpesan pemerintah harus mulai mencari cara untuk beralih meningkatkan penyerapan karet alam dalam negeri. Selain melalui industri manufaktur ban yang sudah ada, pilihan berikutnya adalah pada sektor ban vulkanisir.

Menurut Azis, opsi industri ban vulkanisir jauh lebih baik daripada alternatif aspal berbasis crumb rubber. Pasalnya, industri ban vulkanisir dalam skala kecil maupun besar sudah ada dan bisa langsung digerakkan. Berbeda dengan crumb rubber yang bakal butuh proses panjang lagi.

Dalam perhitungan Azis, industri ban baru umumnya menyerap hingga 250.000 ton karet alam, industri ban vulkanisir bisa menyerap 96.000 - 110.000 ton sedangkan crumb rubber hanya 200.000 ton.

Sekadar info, tahun ini produksi karet diperkirakan mencapai 3,77 juta ton sementara tahun sebelumnya produksi karet hanya sekitar 3,5 juta ton.

Produksi karet ini berasal dari produksi perkebunan rakyat sebesar 3,1 juta ton, produksi perkebunan negara yang diperkirakan 258.000 ton, dan dari perkebunan swasta sebesar 410.000 ton.


Reporter: Tane Hadiyantono
Editor: Agung Jatmiko

Video Pilihan


Close [X]
×