kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   14.000   0,48%
  • USD/IDR 16.819   -9,00   -0,05%
  • IDX 8.122   90,39   1,13%
  • KOMPAS100 1.147   14,66   1,29%
  • LQ45 829   7,64   0,93%
  • ISSI 288   4,68   1,65%
  • IDX30 431   4,08   0,96%
  • IDXHIDIV20 517   4,09   0,80%
  • IDX80 128   1,43   1,13%
  • IDXV30 140   1,24   0,89%
  • IDXQ30 140   1,07   0,77%

Demi pangan, pemerintah cegah konversi lahan tani


Rabu, 30 November 2016 / 17:28 WIB
Demi pangan, pemerintah cegah konversi lahan tani


Reporter: Agus Triyono | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. Pemerintah akan berupaya menghentikan alih fungsi atau konversi lahan pertanian. Langkah tersebut dilakukan untuk mempertahankan ketahanan pangan dalam negeri.

Sofyan Djalil, Menteri Agraria dan Tata Ruang mengatakan, langkah tersebut dilakukan karena alih fungsi lahan pertanian produktif saat ini sudah mengkhawatirkan. "Makanya tadi dalam rapat koordinasi dibicarakan soal pencegahan konversi, bagaimana ada sawah abadi," katanya awal pekan ini.

Sofyan mengatakan, untuk mendukung upaya penciptaan sawah abadi tersebut, pemerintah akan menerapkan menerapkan sistem insentif dan disinsentif. Untuk insentif, bagi daerah yang tidak mengkonversi lahan pertanian mereka menjadi kawasan industri, mereka akan diberikan alokasi khusus.

Dengan bantuan dana alokasi khusus tersebut, pemerintah daerah diharapkan bisa mengembangkan kawasan industri di lahan non pertanian. Sementara itu, untuk pemilik lahan, insentif bisa diberikan dalam bentuk pengurangan pajak.

"Itu masih wacana karena kekhawatiran atas laju konversi lahan, nanti dirumuskan kebijakannya," katanya, pekan ini.

Amran Sulaiman, Menteri Pertanian mengatakan, selain wacana tersebut agar produksi pertanian bisa digenjot, pemerintah juga akan mengaktifkan kembali lahan tidur. Menurut data yang dimilikinya, saat ini ada 11 juta hektare lahan tidur yang dikuasai perusahaan maupun masyarakat dan bisa diaktifkan untuk meningkatkan produksi pertanian.

"Memang tidak mudah, perlu regulasi tentang wajib tanam," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×