kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   31.000   1,17%
  • USD/IDR 17.664   -12,00   -0,07%
  • IDX 6.636   -31,42   -0,47%
  • KOMPAS100 867   -5,52   -0,63%
  • LQ45 658   -5,19   -0,78%
  • ISSI 231   -0,99   -0,43%
  • IDX30 368   -3,06   -0,83%
  • IDXHIDIV20 455   -4,73   -1,03%
  • IDX80 99   -0,80   -0,81%
  • IDXV30 125   -1,37   -1,08%
  • IDXQ30 118   -1,17   -0,99%

Defisit APBN 2026 Diproyeksi 2,95%, Ekonom Dorong Efisiensi Anggaran Harus Selektif


Jumat, 04 September 2026 / 18:49 WIB
Defisit APBN 2026 Diproyeksi 2,95%, Ekonom Dorong Efisiensi Anggaran Harus Selektif
ILUSTRASI. APBN Tekor (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman memproyeksikan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 berada di kisaran 2,8%-2,95% terhadap produk domestik bruto (PDB), mendekati batas maksimal 3%.

Dengan ruang fiskal yang semakin tipis, pemerintah dinilai perlu melakukan efisiensi anggaran secara selektif tanpa mengorbankan belanja produktif.

Rizal mengatakan, menjaga defisit di bawah 3% memang penting. Namun, pemerintah jangan sekadar menyelamatkan angka defisit dengan memangkas belanja yang justru menopang perekonomian.

"Yang harus dipotong adalah 'lemak' anggaran rapat, perjalanan dinas, belanja seremonial, pengadaan non-prioritas, dan tambahan anggaran K/L yang output-nya lemah, bukan belanja produktif yang menjaga daya beli dan investasi," ujar Rizal kepada Kontan, Jumat (4/9/2026).

Baca Juga: Defisit APBN 2026 Bakal Melebar, Pemerintah Efisiensi Anggaran MBG hingga Belanja K/L

Menurutnya, tantangan fiskal 2026 justru semakin berat dari sisi penerimaan. Realisasi penerimaan pajak hingga Agustus yang baru mencapai sekitar 59,8% dari target Rp 2.357 triliun menunjukkan tekanan shortfall sudah nyata.

Rizal mengingatkan pemerintah agar tidak menutup kekurangan penerimaan dengan menambah utang maupun mengorbankan belanja produktif.

"Jangan menutup lubang penerimaan dengan menambah utang atau mengorbankan belanja produktif, karena itu hanya memindahkan tekanan dari APBN ke pertumbuhan ekonomi," katanya.

Menurut Rizal, defisit sebesar 2,8%-2,95% memang masih berada di bawah batas 3%, tetapi margin keamanannya tipis. Karena itu, keberhasilan pengelolaan fiskal tidak cukup hanya dilihat dari apakah defisit menembus batas 3% atau tidak.

"Ukuran keberhasilan fiskal bukan sekadar tidak menembus 3%, melainkan apakah defisit tersebut lahir dari belanja produktif atau justru dari penerimaan yang melemah dan belanja rutin yang tidak terkendali," pungkasnya.

Baca Juga: Selain MBG, Purbaya Siap Potong Belanja Tak Perlu demi Jaga Defisit APBN 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×