kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.860.000   -260.000   -8,33%
  • USD/IDR 16.805   19,00   0,11%
  • IDX 8.330   97,40   1,18%
  • KOMPAS100 1.165   25,83   2,27%
  • LQ45 834   20,52   2,52%
  • ISSI 298   2,18   0,74%
  • IDX30 430   8,24   1,96%
  • IDXHIDIV20 510   9,16   1,83%
  • IDX80 129   2,93   2,32%
  • IDXV30 139   2,61   1,92%
  • IDXQ30 139   3,06   2,26%

Darmin: Indonesia harus punya UU anti-krisis


Kamis, 24 Oktober 2013 / 16:13 WIB
Darmin: Indonesia harus punya UU anti-krisis
ILUSTRASI. Harga Saham GOTO Kamis (17/6) Melemah Usai Rally, Hari Ini Saatnya Jual atau Beli?


Reporter: Dikky Setiawan | Editor: Dikky Setiawan

JAKARTA. Indonesia saat ini belum memiliki undang-undang untuk mengantisipasi krisis. Sehingga hal ini menimbulkan kerentanan dalam perekonomian di masa mendatang.

Ketua Umum Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Darmin Nasution mengatakan, pasar uang dan pasar modal saat ini terus mengalami tekanan hebat seiring dengan tertekannya nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Di tengah kondisi ekonomi yang bergejolak ini, Undang-undang Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK) ini terasa sangat diperlukan untuk mengendalikan stabilitas sistem keuangan nasional.

"Kita belum punya undang-undang JPSK. Tidak ada yang benar-benar krusial kecuali UU JPSK," kata Darmin dalam pernyataan pers di Jakarta, Kamis (24/10/2013).

Ia menambahkan, UU JPSK sangat diperlukan jika misalnya suatu bank mengalami krisis dan berdampak sistemik. Tanpa UU JPSK, pemerintah tak memiliki dasar hukum untuk menyelamatkan sebuah bank besar, jika bank tersebut roboh.

Hingga saat ini, nasib UU JPSK masih teronggok di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan DPR juga belum membahas atau bahkan berani menolaknya. "UU JPSK harus segera dibahas," pintanya. (Didik Purwanto/Kompas.com)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×