Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) mulai memasang ancang-ancang untuk menanamkan modal di pasar saham.
CEO Danantara Indonesia, Rosan P. Roeslani, menyatakan bahwa pihaknya tengah memantau proses demutualisasi bursa sebelum menetapkan besaran investasi.
Rosan menjelaskan, Danantara tidak akan terburu-buru dalam menentukan alokasi dana. Pihaknya masih menunggu struktur kepemilikan saham di bursa menjadi lebih terbuka pasca proses demutualisasi tersebut selesai dilakukan.
Baca Juga: Aliran Modal Asing Hengkang Rp 12,55 Triliun di Periode 26-29 Januari 2026
"Kita ikuti dulu proses demutualisasinya. Tentunya setelah itu baru nanti kita melihat besarannya persentase dari kepemilikan saham itu," ujarnya di Wisma Danantara, Sabtu (31/1/2026) malam.
Menurut Rosan, peluang investasi di pasar modal ini nantinya tidak hanya terbuka bagi Danantara saja. Pemerintah juga akan membuka pintu bagi institusi keuangan dunia lainnya untuk masuk, sehingga Danantara perlu melihat komposisi terbaik dalam kepemilikan tersebut.
"Dan tentunya bukan hanya Danantara, tapi juga dari institusi keuangan dunia lainnya pun akan dibuka. Ya, nanti kita lihat yang terbaiknya seperti apa," terangnya.
Meski memiliki mandat besar sebagai Sovereign Wealth Fund (SWF) Indonesia, Rosan menegaskan bahwa setiap keputusan investasi akan didasarkan pada pertimbangan bisnis yang matang. Danantara bakal melakukan peninjauan mendalam sebelum menyuntikkan modal ke pasar ekuitas.
Baca Juga: Yakin Ekonomi Tahun Ini Tumbuh 6%, Purbaya Bakal Minta Hadiah ke Prabowo
"Kami tetap harus melihat setelah melalui evaluasi dan assessment yang independen dari bagian research dan bagian investasi kami," jelasnya.
Diberitakan sebelumnya, Rosan mengungkapkan, Danantara memiliki kepentingan besar terhadap stabilitas dan keterbukaan pasar modal. Pasalnya, banyak perusahaan di bawah naungan BUMN yang sudah melantai di bursa sebagai perusahaan publik.
"Kalau kami lihat lebih dalam lagi, hampir 30% dari total market kapitalisasi pasar yang ada di bursa itu adalah kontribusi dari BUMN kita," ujarnya Jumat (30/1/2026).
Melihat besarnya porsi tersebut, Rosan mendorong agar otoritas bursa bisa menjunjung tinggi prinsip tata kelola yang baik secara konsisten. Menurutnya, bursa yang lebih terbuka akan memberikan perlindungan dan kepercayaan lebih bagi investor maupun emiten BUMN.
"Kami juga ingin mendorong agar bursa kita ini menjadi lebih transparan, lebih terbuka, dan juga selalu menjunjung tinggi tata kelola (governance) yang baik yang harus kita selalu pikirkan secara terus-menerus," tegasnya
Selanjutnya: Trump Optimistis Kuba Akhirnya Akan Bersedia Bernegosiasi dengan AS
Menarik Dibaca: Harga emas Galeri 24 dan UBS di Pegadaian hari ini Minggu (1/2/2026) Kompak Turun
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













