kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Cukai rokok naik, waspadai dampak ke laju inflasi


Selasa, 24 Oktober 2017 / 21:40 WIB


Reporter: Adinda Ade Mustami | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara memperkirakan, inflasi Oktober sebesar 0,04%, jauh lebih rendah dibanding inflasi September yang sebesar 0,13%. Hal itu, didorong oleh harga bahan pangan yang masih mencatatkan tren rendah.

Namun menurutnya, dampak kenaikan cukai rokok yang berlaku 1 Januari 2018 perlu diwaspadai mulai saat ini. Sebab, "Rencana kenaikan cukai rokok membuat beberapa pengecer mulai menyesuaikan harga," kata Bhima kepada Kontan.co.id, Selasa (24/10).

Tak hanya itu, pihaknya juga meminta pemerintah untuk menjaga stabilitas harga pangan menjelang akhir tahun. Mengingat inflasi menjelang Natal dan tahun baru cenderung meningkat.

Pengendalian harga pangan lanjut dia, juga mencakup pengendalian kurs rupiah. Sebab, depresiasi rupiah lanjut dia akan bisa memberi tekanan pada kenaikan barang impor, baik barang konsumsi maupun sandang.

"Bawang putih misalnya 85% lebih diperoleh dari impor. Kalau rupiah terlalu lemah harga bawang putih bisa naik," tambahnya.

Di sisi lain, Bhima mengatakan bahwa tidak ada tekanan dari harga yang diatur pemerintah (administered price) tidak ada. Hal ini mendorong inflasi akhir tahun masih bisa berada dalam target pemerintah sebesar 4%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×