Reporter: Rahma Anjaeni | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. IHS Markit baru saja melaporkan Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia pada bulan April berada di level 27,5. Indeks ini merosot tajam apabila dibandingkan dengan indeks bulan Maret, yaitu 43,5. Bahkan, posisi PMI manufaktur ini menunjukkan kinerja terendah dalam catatan.
Penurunan tajam dari PMI manufaktur ini, tak lain merupakan dampak yang ditimbulkan oleh wabah virus Corona yang berimbas pada sektor industri. Akibatnya, banyak penutupan pabrik serta anjloknya permintaan, output, dan permintaan baru.
Baca Juga: Menkeu: Indeks manufaktur April Indonesia turun ke level terparah di Asia
Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah mengatakan, dengan adanya pembatasan aktivitas ekonomi dan banyaknya pabrik yang tutup, maka PMI sudah pasti akan turun.
"Saya kira masih turun lagi di bulan Mei ini, tergantung kepada penyebaran wabah nya. Bulan Mei dan Juni diyakini akan menjadi puncak wabah Covid-19, maka indeks manufaktur berpotensi menjadi lebih rendah lagi," ujar Piter kepada Kontan.co.id, Senin (4/5).
Menurut Piter, penurunan indeks PMI ini tidak akan terus berlanjut sampai akhir tahun. Ia memperkirakan, penurunannya akan terus terjadi sampai dengan kuartal III-2020.
Piter menjelaskan, angka PMI ini tidak terlalu dilihat secara detail. Level PMI hanya dilihat apakah berada di bawah 50 atau di atas 50. Apabila levelnya masih di bawah 50, itu artinya industri masih mengalami kontraksi dan memberikan sentimen negatif. "Artinya belum terjadi recovery di kuartal III, ekonomi baru bisa mulai proses recovery pada kuartal IV-2020," paparnya.
Baca Juga: API: Indeks PMI manufaktur akan terus turun sampai PSBB dicabut
Ia melanjutkan, pada saat seperti ini maka penurunan level PMI tidak akan terelakkan. Pemerintah juga tidak akan bisa mendorong kinerja manufaktur selama wabah masih berlangsung. Adapun yang harus dilakukan pemerintah adalah memastikan bahwa wabah Corona bisa cepat berlalu, serta perusahaan manufaktur tidak kolaps dikarenakan mengalami kesulitan likuiditas.
Apabila perusahaan bisa bertahan selama wabah Corona berlangsung, maka mereka akan bisa segera melakukan pemulihan ketika wabah berlalu.
Lebih lanjut, Piter mengasumsikan apabila wabah sudah berakhir pada tahun ini, maka PMI manufaktur Indonesia akan bisa di atas level 50 pada tahun depan. Untuk mewujudkan ini, maka kebijakan yang dibutuhkan pemerintah adalah menjaga agar industri manufaktur tidak bangkrut lebih dulu.
"Kalau sudah bangkrut duluan, pada waktu wabah berlalu kebijakan pemerintah sudah tidak banyak berguna. Apabila industri manufaktur bertahan di tengah wabah dengan bantuan pemerintah, maka ketika wabah berlalu industri bisa bangkit kembali. Tidak perlu kebijakan pemerintah lagi mereka akan bangkit," kata Piter.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)