Reporter: Hervin Jumar | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) memprediksi harga sejumlah komoditas pangan masih akan berfluktuasi sepanjang Agustus 2026.
Meski beberapa komoditas mulai mengalami penurunan, ancaman cuaca ekstrem akibat El Nino dan persoalan distribusi dinilai masih berpotensi mendorong kenaikan harga sejumlah bahan pokok.
Sekretaris Jenderal Ikappi, Reynaldi Sarijowan, mengatakan pada awal Agustus harga cabai merah keriting turun menjadi sekitar Rp 47.000 per kilogram (kg). Namun, harga cabai rawit merah justru naik menjadi Rp 56.000 per kg, sedangkan cabai merah besar berada di kisaran Rp 49.000 per kg.
Baca Juga: Bahlil Sebut Harga Pertamax Turun Karena Ikuti Harga Minyak Dunia
Untuk komoditas lainnya, harga bawang merah tercatat sekitar Rp 45.000 per kg dan bawang putih Rp 43.000 per kg. Sementara itu, harga daging ayam mengalami lonjakan hingga Rp 43.000 per kg, sedangkan telur ayam berada di kisaran Rp 27.000 per kg.
Adapun harga Minyakita masih relatif stabil di kisaran Rp 15.700 hingga Rp 16.000 per liter. Di sejumlah daerah, harga Minyakita bahkan telah menyentuh harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 15.700 per liter.
Reynaldi mengatakan, faktor cuaca menjadi penyebab utama gejolak harga pangan saat ini.
Menurutnya, El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga tahun depan mulai memengaruhi produksi dan pasokan sejumlah komoditas.
"Faktor yang menunjang kenaikan tentu memang adanya cuaca El Nino yang cukup panjang. Bahkan prediksinya sampai tahun depan akan terjadi kemarau panjang, sehingga faktor iklim sangat memengaruhi," ujar Reynaldi kepada Kontan, Senin (3/8/2026).
Ia tidak menampik program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi meningkatkan permintaan pangan. Namun, menurutnya, hingga kini pelaksanaan program tersebut belum memberikan dampak signifikan terhadap serapan komoditas di pasar tradisional.
"Faktanya di lapangan MBG belum berhasil mengoptimalisasi serapannya di pasar tradisional. Harapan kami, titik-titik SPPG mampu menyerap hasil bumi yang ada di sekitar pasar maupun daerah setempat," katanya.
Selain faktor cuaca, Ikappi juga menyoroti persoalan distribusi yang belum kunjung dibenahi.
Baca Juga: Impor Indonesia hingga Juni 2026 Didominasi dari China, Jepang, dan Australia
Reynaldi menilai panjangnya rantai pasok dari hulu hingga hilir masih menjadi penyebab harga pangan mudah bergejolak ketika pasokan terganggu.
Oleh karena itu, Ikappi memperkirakan sepanjang Agustus harga pangan akan bergerak bervariasi. Beberapa komoditas diperkirakan mengalami penurunan, tetapi komoditas lain masih berpotensi naik apabila pemerintah tidak segera melakukan langkah mitigasi.
"Di Agustus ini memang ada kecenderungan penurunan harga beberapa komoditas bahan pokok. Tapi di komoditas yang lain juga ada lonjakan. Kalau tidak dimitigasi sejak awal dan tidak ada intervensi, ini akan membuat masyarakat semakin terbatas untuk berbelanja," ujarnya.
Reynaldi menambahkan, gejolak harga pangan berisiko semakin menekan konsumsi rumah tangga karena daya beli masyarakat hingga kini dinilai belum pulih sepenuhnya.
Menurutnya, stabilisasi pasokan, perbaikan distribusi, serta optimalisasi penyerapan hasil produksi lokal melalui SPPG menjadi langkah yang perlu dilakukan pemerintah untuk meredam gejolak harga pangan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
