Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengakui penanganan darurat banjir dan longsor di Sumatera Utara (Sumut) menghadapi tantangan terberat akibat tingginya jumlah korban jiwa dan terisolasinya beberapa wilayah kunci.
Kepala BNPB Suharyanto menyatakan, fokus utama penanganan saat ini adalah dua wilayah yang terisolir total, yakni Tapanuli Tengah dan Sibolga. Kedua daerah tersebut saat ini hanya bisa dicapai lewat udara melalui Bandara Pinangsori atau jalur laut.
“Yang sekarang masih perlu mendapat perhatian secara serius adalah dua daerah. Yang pertama Tapanuli Tengah, yang kedua Sibolga. Kenapa ini mendapat perhatian penuh? Karena terisolir,” ujarnya dalam konferensi pers, Minggu (30/11).
Baca Juga: Inflasi November Diprediksi Turun ke 2,73% YoY Didorong Penurunan Harga Pangan
Ia menjelaskan, terisolasinya Sibolga dan Tapanuli Tengah menyebabkan kekhawatiran logistik di kalangan masyarakat. Hal ini sempat memicu viralnya upaya warga mengambil bahan makanan dari supermarket yang dikhawatirkan disebut sebagai penjarahan.
“Mereka mengambil bahan makanan. Ya mungkin mereka khawatir, takut, karena tertutup dan bahan makanannya terbatas. Sebagian viral ke media sosial, kami juga sudah memberikan penjelasan secara langsung,” jelasnya.
Untuk memecah isolasi tersebut, lanjut dia, upaya prioritas saat ini adalah membuka jalur darat Tapanuli ke Sibolga yang tertutup longsoran sangat panjang, mencapai sekitar 50 kilometer. Jalur ini krusial untuk mengeluarkan ratusan pejalan dan kendaraan yang terjebak di tengah rute.
“Dengan Satgas Gabungan TNI-Polri, ini sudah berusaha membuka. Menurut penjelasan kemarin sore, paling tidak butuh waktu tiga sampai empat hari lagi baru bisa tembus,” katanya.
Guna menjamin pasokan logistik, BNPB mengerahkan armada besar. Per hari ini, BNPB memiliki tiga buffer stock logistik di Bandara Suwondo, Silangit, dan Pinangsori. Selain enam unit helikopter dan satu pesawat Cessna yang siap siaga, Suharyanto mengumumkan pengiriman bantuan besar melalui laut.
“Per hari ini juga kami sudah mengerahkan dua KRI (Kapal Republik Indonesia) langsung dari Jakarta menuju Sibolga. Kalau KRI sudah bisa mendarat, logistik sudah banyak dan kondisi akan lebih kondusif,” tegasnya.
Jumlah Korban Jiwa Bencana Longsor dan Banjir Sumatera - Aceh
Suharyanto menyebutkan jumlah korban meninggal dunia di Sumatera Utara tampak bertambah dari laporan beberapa hari sebelumnya.
"Untuk wilayah Sumatra Utara, itu yang meninggal 172 orang, ini masih ada yang hilang 147 orang, kemudian yang terdampak ini cukup banyak, masyarakat yang selamat dan mengungsi," kata dia.
Sementara itu, untuk wilayah Sumatera Barat, jumlah korban meninggal bertambah hingga 90 jiwa, dengan sebagian besar berasal dari Kabupaten Agam.
"Kemudian untuk Padang, jumlah yang meninggal Sumatera Barat, ini bertambah, justru lebih besar daripada Aceh. Karena ini 90 (orang) meninggal dunia disumbang oleh salah satu kabupaten kota di Sumatera Barat yaitu di Agam," terangnya.
Kemudian di Aceh, jumlah korban meninggal dunia mencapai 54 jiwa dan 55 orang dinyatakan hilang. Menurutnya, tantangan utama saat ini banyaknya ruas jalan yang masih putus, termasuk jalur dari Sumut ke Aceh hingga Bener Meriah yang masih terisolir.
"Untuk upaya menormalisasi jalur transportasi yang putus, untuk di Aceh ini sudah masuk dari Kementerian PU. Tapi kalau di Sumatera Tengah, khususnya di Tapanuli, di daerah Tapanuli ini masih terkendali karena harus tembus dulu dari Tapanuli Utara ke Sibolga. Jalannya sangat kecil, alat berat banyak pun tidak berguna, karena yang hanya bisa bekerja hanya dua alat," tandasnya.
Baca Juga: Analisis Proyeksi BI: Tantangan RI Capai Pertumbuhan 7,7% pada 2031
Selanjutnya: OJK Kaji Restrukturisasi Kredit Korban Banjir Sumatera 2025
Menarik Dibaca: Resep Donat Mochi Super Chewy dan Lumer yang Anti Gagal
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













