kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.713.000   -20.000   -0,73%
  • USD/IDR 17.990   31,00   0,17%
  • IDX 5.890   -12,50   -0,21%
  • KOMPAS100 779   -3,86   -0,49%
  • LQ45 587   -2,51   -0,43%
  • ISSI 202   0,42   0,21%
  • IDX30 334   -1,33   -0,40%
  • IDXHIDIV20 412   -0,98   -0,24%
  • IDX80 88   -0,32   -0,37%
  • IDXV30 111   -0,03   -0,02%
  • IDXQ30 107   -0,29   -0,27%

BI Rate Naik Jadi 5,50%, BI Juga Perkuat Stabilisasi Rupiah Dengan Cara Ini


Selasa, 09 Juni 2026 / 12:45 WIB
BI Rate Naik Jadi 5,50%, BI Juga Perkuat Stabilisasi Rupiah Dengan Cara Ini
ILUSTRASI. BI Rate Naik Jadi 5,50%, BI Juga Perkuat Stabilisasi Rupiah Dengan Cara Ini


Reporter: Adi Wikanto | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan yang digelar pada Selasa (9/6/2026).

Sejalan dengan keputusan tersebut, BI juga menaikkan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,50% dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,25%.

Dalam keterangan resmi, Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia menjelaskan, kenaikan suku bunga dilakukan sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah yang masih menghadapi tekanan akibat tingginya ketidakpastian global, terutama dampak konflik di Timur Tengah dan meningkatnya volatilitas pasar keuangan internasional.

Selain menjaga stabilitas rupiah, kebijakan ini juga ditujukan untuk memastikan inflasi tetap berada dalam kisaran sasaran pemerintah sebesar 2,5% ±1% pada 2026 dan 2027.

Bank Indonesia menilai langkah tersebut sekaligus dapat meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik sehingga mendorong masuknya aliran modal asing ke pasar Indonesia.

Baca Juga: Kata Jemaah Haji Soal Hotel Dekat Masjid Nabawi: Bisa Jalan Kaki, Ibadah Lebih Nyaman

Rupiah Lebih Lemah dari Perkiraan

Dalam evaluasi pelaksanaan kebijakan sejak RDG Bulanan 19–20 Mei 2026, Bank Indonesia mencatat nilai tukar rupiah bergerak lebih lemah dibandingkan proyeksi sebelumnya. 

Pada perdagangan Selasa 9 Juni 2026 Pukul 12.02 WIB, rupiah di pasar spot ada di level Rp 18.137 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat 0,28% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 18.188 per dolar AS.

Namun nilai tukar rupiah di level Rp 18.000-an adalah yang terendah dalam sejarah bangsa.

Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh beberapa faktor, mulai dari berlanjutnya gejolak global, tingginya kebutuhan valuta asing di dalam negeri, hingga meningkatnya arus keluar investasi portofolio asing dari pasar keuangan Indonesia.

Kondisi tersebut mendorong BI mengambil langkah tambahan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar sekaligus menjaga ketahanan sektor eksternal Indonesia.

Tonton: Rekor Terburuk Lagi! Rupiah Ditutup di Level Rp 18.188 per Dolar AS

BI Naikkan Imbal Hasil SRBI

Sebagai bagian dari strategi stabilisasi rupiah, Bank Indonesia meningkatkan struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk seluruh tenor 6 bulan, 9 bulan, dan 12 bulan.

Kebijakan ini bertujuan meningkatkan imbal hasil investasi portofolio di Indonesia agar tetap kompetitif dibandingkan negara lain dan menarik minat investor asing.

Penyesuaian suku bunga SRBI dilakukan sesuai mekanisme pasar.

Baca Juga: Penerimaan Bea Cukai Mulai Positif, Tapi Sinyal Perlambatan Ekonomi Masih Membayangi

Insentif Baru untuk Investor Asing

Bank Indonesia juga memberikan insentif berupa penurunan biaya swap lindung nilai (hedging swap) sebesar 10% bagi investor asing.

Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan daya tarik investasi portofolio asing sekaligus mengurangi beban biaya yang selama ini ditanggung investor ketika melakukan lindung nilai terhadap risiko kurs.

Sementara itu, tingkat swap reguler tetap ditentukan berdasarkan mekanisme pasar yang berlaku.

BI Buka Kembali Lelang Repo

Untuk menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan, Bank Indonesia membuka kembali fasilitas lelang repurchase agreement (repo) untuk tenor 3 bulan, 6 bulan, 9 bulan, dan 12 bulan.

Melalui kebijakan ini, BI menargetkan pertumbuhan Uang Primer (M0) tetap berada pada level dua digit atau di atas 10%.

Bank Indonesia menegaskan bahwa instrumen repo akan menjadi salah satu instrumen utama dalam pengelolaan likuiditas, dibandingkan pendekatan lain seperti pembelian Surat Berharga Negara (SBN) dari pasar sekunder.

Intervensi Rupiah Diperkuat

Bank Indonesia juga meningkatkan intensitas operasi moneter baik dalam rupiah maupun valuta asing.

Untuk pasar rupiah, BI akan menggelar lelang SRBI dua kali dalam sepekan guna meningkatkan efektivitas pengendalian likuiditas.

Sementara di pasar valuta asing, intervensi dilakukan melalui transaksi spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), serta transaksi Non Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri.

Langkah tersebut bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya volatilitas pasar global.

Tonton: Pasar Berspekulasi Soal The Fed, Harga Emas Tergelincir

Koordinasi BI dan Pemerintah Diperkuat

Bank Indonesia menegaskan koordinasi kebijakan moneter dan fiskal bersama pemerintah akan terus diperkuat.

Koordinasi tersebut mencakup upaya meningkatkan daya tarik investasi pada SRBI dan SBN, menjaga kecukupan likuiditas sistem keuangan, serta memastikan pengelolaan kas pemerintah tetap mendukung stabilitas pasar keuangan.

BI meyakini sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter akan membantu menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia menghadapi tekanan global yang masih berlangsung.

Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, Bank Indonesia menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan memiliki daya tahan yang memadai untuk menjaga stabilitas serta mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.


 

Bitcoin Jatuh ke Level US$60.000, Saatnya Investor Siaga!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×