kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

BI memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi 2019 di bawah 5,2%


Kamis, 16 Mei 2019 / 16:32 WIB


Reporter: Benedicta Prima | Editor: Azis Husaini

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memangkas pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2019. Tadinya BI cukup optimistis pertumbuhan ekonomi 2019 dikisaran 5%-5,4%.

"Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2019 berada di bawah titik tengah kisaran 5%-5,4%," jelas Gubernur BI Perry Warjiyo saat konferensi pers di kantornya, Kamis (16/5).

Titik tengah kisaran tersebut adalah 5,2%. Dengan pernyataan Perry maka BI memangkas proyeksinya dikisaran bawah 5,2%. Ini sejalan dengan perkembangan ekonomi global yang melambat serta ketidakpastian pasar keuangan yang kembali meningkat.

Kondisi tersebut terlihat dari kondisi pertumbuhan ekonomi kuartal I-2019 yang hanya tumbuh 5,07%, lebih rendah dari kuartal sebelumnya yang tumbuh 5,18%. Meskipun sedikit lebih tinggi dari kuartal yang sama di tahun sebelumnya yang tumbuh 5,06%.

"Menurunnya pertumbuhan ekonomi global dan harga komoditas yang lebih rendah telah berdampak pada menurunnya pertumbuhan ekspor Indonesia, yang kemudian berpengaruh pada konsumsi rumah tangga dan investasi,"jelas Perry.

Seperti diketahui pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) masih diproyeksikan melambat. Hal serupa juga terjadi di Eropa dan Tiongkok. Pertumbuhan ekonomi dunia yang melambat berpengaruh pada volume perdagangan dan dan harga komoditas global yang menurun. Kecuali harga minyak dunia yang naik pada periode terakhir karena dipengaruhi faktor geopolitik.

Sementara itu, ketidakpastian pasar keuangan dunia yang meningkat dipengaruhi oleh eskalasi perang dagang AS dan Tiongkok sehingga kembali memicu peralihan modal dari negara berkembang ke negara maju, meskipun respon kebijakan moneter global mulai melonggar.

Kedua perkembangan ekonomi global yang kurang menguntungkan tersebut memberikan tantangan dalam upaya menjaga stabilitas eksternal baik untuk mendorong ekspor maupun menarik modal asing.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×