kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45989,59   -6,37   -0.64%
  • EMAS998.000 -0,60%
  • RD.SAHAM -0.07%
  • RD.CAMPURAN 0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.07%

Belanja Pemerintah Belum Optimal, Ekonom: Bisa Ganggu Pemulihan Ekonomi Indonesia


Selasa, 27 September 2022 / 20:03 WIB
Belanja Pemerintah Belum Optimal, Ekonom: Bisa Ganggu Pemulihan Ekonomi Indonesia
Suasana bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (26/9/2022). Belanja Pemerintah Belum Optimal, Ekonom: Bisa Ganggu Pemulihan Ekonomi Indonesia.


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia bisa terganggu akibat tidak optimalnya belanja pemerintah. Bahkan kontribusi belanja pemerintah belum bisa menopang pertumbuhan ekonomi. Dimana pada kuratal II 2022 kontribusi belanja pemerintah malah mengalami kontraksi 5,24%.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abdul Manap mengatakan, selama ini pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih banyak ditopang konsumsi rumah tangga dan investasi.

"Sementara untuk belanja pemerintah rendah, kontribusinya ke pertumbuhan ekonomi sudah mengalami negatif  dua kali,” tutur Abdul kepada Kontan.co.id, Selasa (27/9).

Baca Juga: Banyak Kegiatan Pemerintah Pusat yang Belum Dibayar, Bikin Belanja Negara Seret

Kementerian Keuangan mencatat, realisasi belanja negara hingga Agustus 2022 baru mencapai Rp 1.657 triliun atau baru terserap 53,3% dari total pagu yang ada dalam Perpres 98/2022 yang sebesar Rp 3.106,4 triliun.

Jika dilihat dari belanja pemerintah pusat (BPP) realisasinya pun masih rendah. Tercatat baru terserap 37,9% atau sebesar Rp 1.178,2 triliun.

Adapun, Abdul mengatakan belanja negara yang belum optimal hingga Agustus tersebut bukan hal yang mengejutkan. Pasalnya memang biasanya pemerintah baru menggenjot belanjanya di akhir tahun atau di kuartal IV.

“APBN kita memang realisasinya suka di akhir tahun, makannya kita pertanyakan tentang kualitas bagaimana dampaknya ke pertumbuhan ekonomi,” tambahnya.

Baca Juga: Duit Menganggur Pemda di Perbankan Membengkak

Dia berasumsi, belanja yang lambat biasanya disebabkan adanya permasalahan birokrasi, seperti kegiatan dan program pemerintahnya berjalan namun pembayarannya masih ditunda.

Selain itu, Ia juga menilai pemerintah tidak terlalu fokus dan mengubah pola lama terkait realisasi belanja negara ini. Saat ini pemerintah memang sedang fokus pada pengendalian inflasi karena adanya gejolak perekonomian global dan permasalahan struktural dalam negeri.

“Jadi (belanja negara yang seret) bisa saja disebabkan karena fokus program pemerintah yang berubah,” jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×