Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekonom Bank Mandiri memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 mulai menghadapi tekanan perlambatan seiring meredanya efek musiman Lebaran dan meningkatnya ketidakpastian global.
Di saat yang sama, pola konsumsi masyarakat juga mulai berubah lebih hati-hati.
Mandiri Institute mencatat Mandiri Spending Index (MSI) sempat mencapai puncak tertinggi di level 124,3 pada pekan 22 Maret 2026 atau saat momentum Idulfitri. Namun setelah itu, tren belanja masyarakat mulai melandai.
Hingga 5 Mei 2026, MSI turun menjadi 122,3 setelah terkoreksi selama lima pekan berturut-turut. Meski demikian, perlambatan konsumsi tahun ini dinilai masih lebih baik dibandingkan pola tahun lalu.
"Di 2026 ini moderasi terlihat lebih gradual," ujar ekonom Mandiri Institute Andre Simangunsong dalam agenda Mandiri Macro & Market Brief Q2 2026 Indonesia Economic Outlook, Senin (11/5/2026).
Baca Juga: Kredit Bank Mandiri Region VI Jawa Barat naik 14,7% hingga September 2025
Andre menjelaskan, pada 2025 penurunan konsumsi pasca-Lebaran terjadi cukup tajam meski kemudian diikuti pemulihan yang kuat. Sementara tahun ini, pelemahan konsumsi berlangsung lebih bertahap sehingga dinilai lebih stabil.
Mandiri Institute juga mencatat libur panjang Hari Buruh sempat mendorong konsumsi masyarakat. Namun dampaknya tidak terlalu besar karena tidak berdekatan dengan periode gajian.
Di sisi lain, pola belanja masyarakat mulai bergeser ke kebutuhan yang lebih esensial. Kategori supermarket tumbuh hampir 6% secara tahunan hingga awal Mei 2026, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 3,3%.
Sebaliknya, belanja untuk sektor elektronik dan leisure masih relatif tertahan.
Selain itu, pertumbuhan konsumsi juga terlihat makin tidak merata antar kelompok masyarakat. Kelompok berpenghasilan atas tercatat masih menjadi penopang utama belanja domestik.
Baca Juga: Aktivitas Belanja Kuartal I-2026 Naik, Transaksi Kartu Kredit Bank Mandiri Terkerek
Mandiri Institute mencatat pertumbuhan belanja kelompok atas mencapai 5,3% secara tahunan pada 2026, naik dibandingkan tahun lalu sebesar 3,1%. Sementara kelompok menengah dan bawah justru mengalami perlambatan.
"Pertumbuhan belanja memang lebih kuat pada kelompok atas," kata Andre.
Menurut dia, konsumsi kelas atas masih cukup solid terutama pada segmen premium seperti department store, speciality store, dan e-commerce premium.
Pihaknya juga menilai sikap hati-hati masyarakat saat ini dipengaruhi meningkatnya ketidakpastian global, mulai dari pergerakan harga minyak hingga prospek ekonomi dunia.
Kondisi global tersebut turut menjadi perhatian utama ekonom Bank Mandiri dalam menyusun proyeksi ekonomi dan bisnis tahun ini.
Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan situasi ekonomi global dan domestik pada 2026 menjadi salah satu periode paling kompleks dalam beberapa tahun terakhir.
"Situasi ekonomi global dan domestik sangat tidak menentu," ujarnya.
Menurut Andry, risiko perlambatan ekonomi dunia, ancaman stagflasi, perang dagang, hingga ketegangan geopolitik menjadi faktor yang saling memengaruhi pasar keuangan global.
Baca Juga: Belanja Masyarakat Cenderung Stagnan, Ekonom: Mulai Masuk Fase Normalisasi
Kondisi itu juga memicu tekanan terhadap rupiah yang sempat menyentuh kisaran Rp 17.300-Rp 17.400 per dolar Amerika Serikat (AS). Andry menilai pelemahan rupiah lebih dipicu sentimen global dibandingkan faktor domestik.
Selain itu, lonjakan harga minyak akibat konflik geopolitik di Timur Tengah dinilai menjadi tekanan tambahan bagi Indonesia sebagai negara net importir minyak.
Bank Mandiri juga menyoroti berubahnya ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga AS. Meski The Fed masih memberi sinyal peluang satu kali pemangkasan suku bunga pada 2026, pasar justru memperkirakan belum ada penurunan suku bunga tahun ini.
Menurut Andry, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi arus modal, nilai tukar, hingga stabilitas pasar keuangan domestik.
Dari sisi domestik, Bank Mandiri melihat adanya tantangan berupa ketimpangan pertumbuhan antar kelompok masyarakat, sektor ekonomi, dan wilayah.
Meski demikian, Head of Macroeconomic and Financial Market Research Department Bank Mandiri Dian Ayu Yustina menilai ekonomi Indonesia masih memiliki sejumlah penopang utama.
Baca Juga: Waspadai Gejolak Global, Bank Mandiri Perketat Penyaluran Kredit & Perkuat Likuiditas
Bank Mandiri memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 berada di kisaran 5,1%-5,5%, lebih rendah dibandingkan realisasi kuartal I yang mencapai 5,61%.
Dian mengatakan, efek konsumsi Lebaran memang mulai mereda dan sejumlah indikator seperti penjualan ritel serta indeks keyakinan konsumen menunjukkan pelemahan.
Namun, konsumsi rumah tangga, investasi, dan belanja pemerintah masih dinilai cukup kuat menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
"Peran belanja fiskal menjadi penting sebagai shock absorber," ujar Dian.
Selain itu, investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) mulai menunjukkan perbaikan. Penyerapan tenaga kerja dari investasi yang masuk pada awal 2026 juga mulai meningkat.
Baca Juga: Portofolio Pembiayaan Berkelanjutan Bank Mandiri Capai Rp 316 Triliun di Tahun 2025
Menurut Dian, kombinasi kebijakan fiskal, moneter, dan makroprudensial yang akomodatif diharapkan dapat menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah tekanan global yang masih tinggi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













