Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengungkapkan Indonesia telah berada dalam jebakan kelas menengah (middle-income trap) selama lebih dari 30 tahun.
Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy mengatakan kondisi tersebut menunjukkan Indonesia tidak cukup hanya berupaya keluar dari jebakan kelas menengah, tetapi juga harus mampu benar-benar meninggalkan posisi tersebut untuk dapat mencapai status negara berpendapatan tinggi.
"Saya mendengar bahwa kita sudah lebih dari 30 tahun berada dalam jebakan kelas menengah," ujar Rachmat dalam acara Bappenas-ADBI Joint Conference on Asian Countries' Long Term Development Visions, Rabu (9/9/2026).
Baca Juga: SMI Tunggu Aturan Kemenkeu untuk Skema Pinjaman Pemda, Plafon Belum Final
Menurut dia, untuk meninggalkan jebakan kelas menengah, Indonesia perlu melakukan perubahan fundamental terhadap sumber pertumbuhan ekonomi.
Indonesia harus beralih dari pola pertumbuhan yang mengandalkan tenaga kerja murah dan sumber daya alam menuju pertumbuhan dengan produktivitas yang lebih tinggi.
"Jika kita ingin bergerak keluar, kita membutuhkan transisi dari pertumbuhan yang didorong oleh tenaga kerja murah dan sumberdaya menuju produktivitas yang lebih tinggi," katanya.
Rachmat menekankan bahwa peningkatan produktivitas saja tidak cukup. Indonesia juga perlu memastikan pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan memiliki kualitas yang lebih baik.
Dengan demikian, agenda pembangunan Indonesia tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produktivitas dan mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan pertumbuhan tersebut mampu menghasilkan transformasi ekonomi yang berkelanjutan.
Selain produktivitas, Rachmat menyebut inovasi dan penguatan institusi sebagai faktor penting agar Indonesia dapat keluar dari jebakan kelas menengah.
Dia mengatakan Indonesia perlu menerapkan inovasi sekaligus melakukan reformasi kelembagaan dan membangun institusi yang kuat.
Baca Juga: Dari Sampah ke Peternakan Puyuh, Cara Kabupaten Ciamis Membangun Ekonomi Sirkular
"Kami belajar bagaimana menerapkan inovasi, bagaimana mereformasi institusi kita, bagaimana membangun institusi yang kuat, untuk menghindari jebakan kelas menengah, dan untuk bergerak keluar dari jebakan kelas menengah," tegasnya.
Rachmat menilai pembangunan jangka panjang juga membutuhkan arah yang jelas. Menurut dia, visi jangka panjang bukan sekadar upaya untuk memprediksi masa depan, melainkan untuk membentuk masa depan yang ingin dicapai oleh suatu negara.
Di sisi lain, ia menekankan pentingnya pembangunan modal manusia (human capital) dalam upaya mendorong transformasi ekonomi Indonesia.
Menurut dia, modal manusia merupakan salah satu aspek terpenting dalam pembangunan negara. Oleh karena itu, pemerintah perlu meningkatkan kualitas pendidikan, sistem kesehatan, serta perlindungan sosial. "Modal manusia adalah salah satu hal yang paling penting," tuturnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














