Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perkembangan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) mendorong bank sentral di kawasan Asia Tenggara untuk memperkuat kerja sama dalam menjaga stabilitas dan ketahanan sistem keuangan.
Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Ricky P. Gozali mengatakan, perkembangan AI menghadirkan tantangan yang tidak dapat dihadapi oleh satu negara secara sendiri.
Karena itu, menurutnya diperlukan pendekatan bersama, khususnya dalam membangun tata kelola AI, memperkuat kapasitas pengawasan, hingga mengoptimalkan pemanfaatan teknologi di sektor keuangan.
“AI menghadirkan tantangan yang perlu dihadapi secara bersama oleh berbagai negara,” ujar Ricky dalam pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi South East Asian Central Banks (SEACEN) di Bali, Indonesia, Senin (5/10/2026).
Ricky menyebut terdapat tiga prioritas bank sentral di era AI. Pertama, membangun tata kelola AI yang terpercaya, transparan, dan akuntabel.
Baca Juga: BI & Bank Sentral Singapura Implementasikan Mata Uang Lokal dalam Transaksi Bilateral
Kedua, memanfaatkan AI untuk membangun ekosistem pembayaran yang lebih efisien, aman, inklusif, dan berdaya tahan. Ketiga, memperkuat kolaborasi regional melalui SEACEN, antara lain melalui dialog kebijakan, pengembangan kapasitas, dan riset bersama.
“AI menghadirkan tantangan yang tidak dapat dihadapi satu negara sendiri. Melalui kolaborasi di kawasan, seperti SEACEN, kita dapat mengembangkan pendekatan bersama yang mendorong inovasi sekaligus menjaga stabilitas sistem keuangan,” tegas Ricky.
Menurut Ricky, pembelajaran dan pengalaman bersama juga semakin penting seiring dengan cepatnya transformasi teknologi.
“Seiring dengan semakin cepatnya transformasi teknologi, pengetahuan dan pengalaman bersama akan semakin berharga dalam membentuk masa depan bank sentral,” tuturnya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif The SEACEN Centre Cynyoung Park menyoroti pentingnya interoperabilitas sistem pembayaran lintas negara untuk mendukung integrasi ekonomi kawasan.
Menurutnya, keterhubungan antarsistem pembayaran perlu didukung oleh standar dan pengaturan yang kompatibel. Selain itu, diperlukan kerangka pengelolaan likuiditas dan risiko penyelesaian transaksi yang jelas.
Baca Juga: BI dan Bank Sentral China Sepakati QR Cross-Border & Swap Mata Uang Baru
Penguatan fondasi tersebut dinilai dapat mendukung perluasan konektivitas pembayaran untuk perdagangan dan investasi regional.
Di sisi lain, Kepala Ekonom United Nations Development Programme (UNDP) untuk Asia dan Pasifik Philip Schellekens menilai kepercayaan menjadi fondasi penting bagi bank sentral di tengah perkembangan AI.
Menurutnya, bank sentral perlu memahami perubahan yang ditimbulkan AI terhadap perekonomian dan teknologi. Bank sentral juga perlu mengantisipasi risiko sistemik yang dapat muncul dari ketergantungan terhadap penyedia platform AI tertentu.
Konferensi bertema Central Banking in the Age of Artificial Intelligence: Payments, Regulation, and Financial Stability for a Connected Asia tersebut membahas perkembangan AI serta implikasinya terhadap kebijakan bank sentral.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan 25th SEACEN Executive Committee (EXCO) Meeting pada 6 Oktober 2026 yang dipimpin Ricky. Pertemuan tersebut membahas penguatan tata kelola dan kelembagaan SEACEN sebagai pusat pembelajaran dan kolaborasi bank sentral di kawasan.
“Penguatan tata kelola, efektivitas organisasi, dan akuntabilitas menjadi landasan penting agar kolaborasi melalui SEACEN terus memberikan nilai tambah bagi anggotanya,” kata Ricky.
Baca Juga: Bank Sentral Global Borong 244 Ton Emas Kuartal I-2026, Bank Indonesia Beli 2 Ton
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














