kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.806.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.565   0,00   0,00%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Aset Safe Haven Jadi Pilihan Investasi di Tengah Memanasnya Konflik Iran-Israel


Selasa, 16 April 2024 / 05:35 WIB
Aset Safe Haven Jadi Pilihan Investasi di Tengah Memanasnya Konflik Iran-Israel
ILUSTRASI. Petugas menghitung uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta, Jumat (1/3/2024). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja


Reporter: Rashif Usman | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Iran meluncurkan ratusan drone dan rudal balistik terhadap Israel pada Sabtu (13/4) malam sebagai misi balasan atas serangan udara pada 1 April lalu. Serangan tersebut dikhawatirkan bakal menimbulkan ketidakpastian geopolitik secara global.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah mendorong pelaku pasar untuk memilih berinvestasi pada aset-aset safe haven, salah satunya dolar AS.

Hal ini menyebabkan mata uang negara-negara lain, terutama yang negara berkembang seperti Indonesia, berpotensi melemah.

Baca Juga: Memanasnya Konflik Iran-Israel Dorong Pelaku Pasar Berinvestasi ke Aset Safe Haven

Josua bilang, indeks dolar AS naik ke kisaran level 106 menyusul eskalasi konflik antara Iran dan Israel.

Kondisi ini menjadi kabar buruk bagi nilai tukar rupiah yang tahun ini sangat dipengaruhi oleh pergerakan inflasi Amerika Serikat (AS) dan kebijakan moneter Bank Sentral AS The Fed.

"Rupiah diprediksi akan terus terdepresiasi jika konflik ini terus memanas dan berlanjut," kata Josua kepada Kontan, Senin (15/4).

Josua menambahkan, konflik di Timur Tengah meningkatkan ketidakpastian global, menyebabkan investor menarik dana dari aset-aset berisiko tinggi, terutama dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Baca Juga: Aset Safe Haven dan Minyak Masih Akan Jadi Andalan pada 2024

Ia menyebutkan bahwa aliran modal keluar dari pasar saham dan obligasi Indonesia dikhawatirkan akan meningkat setelah konflik antara Iran dan Israel meningkat.

Selain itu, ia memprediksi bahwa harga emas akan bertahan dan bahkan terus meningkat di atas US$ 2.000 per troy ons karena investor mencari aset safe haven di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan pasar keuangan global akibat bangkitnya konflik di Timur Tengah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU

[X]
×