kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.594.000   2.000   0,08%
  • USD/IDR 17.941   23,00   0,13%
  • IDX 5.936   -157,61   -2,59%
  • KOMPAS100 766   -19,95   -2,54%
  • LQ45 591   -10,76   -1,79%
  • ISSI 206   -6,62   -3,11%
  • IDX30 330   -4,72   -1,41%
  • IDXHIDIV20 423   -4,31   -1,01%
  • IDX80 88   -2,12   -2,37%
  • IDXV30 116   -0,86   -0,74%
  • IDXQ30 108   -1,04   -0,95%

Apindo Sebut Biaya Logistik Perdagangan Indonesia Termahal di ASEAN-5


Senin, 29 Juli 2024 / 16:10 WIB
Apindo Sebut Biaya Logistik Perdagangan Indonesia Termahal di ASEAN-5
ILUSTRASI. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani mencatat, saat ini biaya logistik perdagangan Indonesia mencapai 23,5% dari produk domestik bruto (PDB), lebih tinggi dari Malaysia sebesar 13% dari PDB, Singapura 8% dari PDB, dan China 16% dari PDB.


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indonesia menjadi negara dengan biaya logistik, biaya energi, biaya tenaga kerja, dan biaya pinjaman termahal di antara negara ASEAN-5.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani mencatat, saat ini biaya logistik perdagangan Indonesia mencapai 23,5% dari produk domestik bruto (PDB), lebih tinggi dari Malaysia sebesar 13% dari PDB, Singapura 8% dari PDB, dan China 16% dari PDB.

Shinta menyampaikan, Kementerian PPN/Bappenas mencatat adanya perbaikan pada biaya logistik RI, yakni turun jadi 14% sampai 15% dari PDB pada 2023.

“Tapi pada kenyataanya memperlihatkan adanya pelemahan yang signifikan dalam performa yang signifikan dari biaya logistik Indonesia. Utamanya dari sisi ketepatan waktu, kualitas layanan, trecking dan efisiensi pelayanan internasional. Ini juga jadi salah satu penyumbang neraca perdagangan jasa Indonesia,” tutur Shinta dalam agenda Bisnis Indonesia Midyear Challenges 2024, Senin (29/7).

Baca Juga: Apindo: Sulit Capai Pertumbuhan Ekonomi 6%-7% Jika Biaya Investasi Masih Tinggi

Untuk itu, Shinta menyebut, agar kondisi biaya perdagangan Indonesia menjadi perhatian pemerintah, karena termasuk yang termahal dan terlama pengurusannya dibanding negara ASEAN-5.

Disamping itu, kondisi biaya perdagangan tersebut juga akan menyulitkan importir, karena dalam memenuhi bahan baku penolong masih membutuhkan impor.

“Hal ini juga menyebabkan, produktivitas yang mungkin kurang maksimal, karena industri hulu dan domestik supply chain belum bisa menggantikan kebutuhan impor secara kompetitif. Kondisi ini justru jadi disinsentif peningkatan antisipasi Indonesia dalam global value chain,” ungkapnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×