kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.565.000   4.000   0,16%
  • USD/IDR 18.034   74,00   0,41%
  • IDX 5.185   -678,68   -11,57%
  • KOMPAS100 658   -103,29   -13,57%
  • LQ45 509   -81,53   -13,82%
  • ISSI 179   -22,02   -10,93%
  • IDX30 284   -45,14   -13,73%
  • IDXHIDIV20 366   -56,36   -13,33%
  • IDX80 75   -11,86   -13,59%
  • IDXV30 102   -13,53   -11,68%
  • IDXQ30 93   -14,99   -13,88%

Ancaman MSCI Bisa Tekan Rupiah hingga Bebani APBN 2027


Jumat, 16 Oktober 2026 / 20:26 WIB
Ancaman MSCI Bisa Tekan Rupiah hingga Bebani APBN 2027
ILUSTRASI. Nilai tukar rupiah melemah (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ancaman reklasifikasi Indonesia dari kategori emerging market menjadi standalone market oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) berpotensi menambah tekanan terhadap pasar keuangan domestik dan meningkatkan risiko pembiayaan pemerintah.

Risiko tersebut perlu diantisipasi dalam skenario pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027, terutama melalui simulasi perubahan nilai tukar rupiah, imbal hasil surat berharga negara (SBN), inflasi, hingga penerimaan negara.

Manager Riset Sekretariat Nasional Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA), Badiul Hadi menilai, ancaman reklasifikasi MSCI tidak semata-mata berkaitan dengan perubahan klasifikasi indeks, tetapi juga mencerminkan persoalan kredibilitas pasar, transparansi, dan tata kelola pasar modal Indonesia.

“Membaca, mencermati MSCI ini, saya melihat ada ancaman reklasifikasi Indonesia dari emerging market menjadi standalone market, bukan sekadar persoalan teknis indeks, melainkan sinyal serius mengenai kredibilitas pasar, transparansi, dan tata kelola,” ujar Badiul kepada Kontan, Jumat (16/10/2026).

Menurut dia, dampak reklasifikasi terhadap perekonomian perlu dibedakan antara perubahan aliran modal dan perubahan fundamental ekonomi nasional.

Baca Juga: DPR Resmi Sahkan RAPBN 2027 Jadi Undang-Undang. Ini Rinciannya!

Dampak langsung yang berpotensi muncul terutama melalui arus modal portofolio, tekanan terhadap rupiah, serta sentimen investasi. Namun, pertumbuhan ekonomi dan inflasi tidak serta-merta memburuk hanya karena perubahan status indeks.

Meski demikian, tekanan pasar keuangan yang berlangsung lama dapat merembet ke perekonomian apabila memengaruhi aktivitas usaha dan keputusan investasi.

Pelemahan rupiah, misalnya, berpotensi meningkatkan biaya impor, sedangkan kenaikan premi risiko dapat mempermahal pendanaan korporasi dan mendorong perusahaan menunda ekspansi usaha.

Besarnya dampak lanjutan tersebut akan bergantung pada durasi tekanan, kondisi perbankan, serta respons kebijakan yang ditempuh pemerintah dan Bank Indonesia.

Dari sisi fiskal, risiko arus modal keluar perlu diperhitungkan dalam penyusunan APBN 2027. Ia menilai, pemerintah perlu mengantisipasi berbagai kemungkinan perubahan asumsi makroekonomi, termasuk apabila pelemahan rupiah dan kenaikan imbal hasil SBN terjadi secara bersamaan.

Menurutnya, pemerintah sebaiknya tidak hanya bertumpu pada satu proyeksi optimistis, tetapi juga menyiapkan skenario dasar, moderat, hingga tekanan berat untuk mengukur ketahanan fiskal.

Baca Juga: Jika Pelemahan Rupiah Berlanjut Akhir Tahun, Defisit APBN Bisa Melebar

“Besaran dampak belum dapat dipastikan hanya dari status indeks. Pemerintah dan Bank Indonesia perlu menyusun simulasi sensitivitas berdasarkan skenario arus modal keluar, depresiasi rupiah, kenaikan imbal hasil SBN, serta perubahan investasi,” ujarnya.

Ia menambahkan, potensi tekanan dari reklasifikasi MSCI tidak serta-merta membuat defisit APBN melebar. Namun, risiko tersebut dapat meningkatkan tekanan terhadap anggaran apabila berlangsung cukup lama dan memicu kenaikan berbagai komponen belanja negara.

“Ada potensi pelebaran defisit) terutama jika pelemahan rupiah meningkatkan beban utang luar negeri, biaya bunga SBN, dan subsidi energi,” katanya.

Pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan beban pembayaran utang luar negeri pemerintah dalam denominasi rupiah. Sementara itu, kenaikan imbal hasil SBN dapat memperbesar biaya penerbitan surat utang baru dan pembiayaan kembali utang yang jatuh tempo.

Selain itu, tekanan nilai tukar juga berpotensi meningkatkan kebutuhan subsidi energi, terutama apabila harga minyak dunia tinggi dan pelemahan rupiah memperbesar biaya pengadaan energi.

Meski begitu, besarnya dampak terhadap defisit tetap bergantung pada durasi tekanan pasar keuangan, perkembangan penerimaan negara, serta respons kebijakan fiskal pemerintah.

Baca Juga: Pemerintah dan Banggar Sepakati Postur RAPBN 2027, Pendapatan dan Belanja Naik

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×