Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah menembus level Rp 18.000 per dollar AS, berpotensi menambah tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Jika pelemahan rupiah terus berlanjut hingga akhir tahun, defisit APBN berisiko melebar dan mendekati batas atas target pemerintah.
Ekonom sekaligus Guru Besar Universitas Indonesia (UI) Telisa Aulia Falianty menilai, pelemahan rupiah perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi besaran defisit APBN. Risiko pelebaran defisit akan semakin besar apabila tekanan terhadap nilai tukar rupiah bertahan hingga akhir tahun.
Baca Juga: Marak Kepala Daerah Terjaring OTT KPK, Tingginya Ongkos Pilkada Jadi Sorotan
"Kalau rupiah melemah, sebetulnya ada sensitivitas analisisnya, yakni akan melebarkan defisit. Jadi, kemungkinan defisit melebar akan ada apabila pelemahan rupiahnya tetap bertahan," ujar Telisa kepada Kontan, Jumat (16/10/2026).
Sebelumnya, pemerintah telah mengumumkan bahwa defisit APBN hingga akhir September 2026 tercatat sebesar Rp 319 triliun atau setara dengan 1,24% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Sementara itu, target defisit APBN 2026 dalam outlook Lapsem dipatok pada kisaran 2,85% terhadap PDB. Dengan demikian, realisasi defisit pada tiga bulan terakhir tahun ini akan menjadi salah satu faktor penentu posisi defisit hingga akhir tahun.
Telisa memperkirakan, apabila rupiah terus mengalami pelemahan hingga Oktober, November, dan Desember 2026, defisit APBN berpotensi bergerak ke batas atas target pemerintah.
Karena itu, perkembangan nilai tukar rupiah perlu dicermati karena tekanan yang berlangsung secara berkelanjutan dapat meningkatkan risiko pelebaran defisit APBN hingga penghujung 2026.
Baca Juga: Ekonom Minta Jaga Keseimbangan Ekosistem Digital di Aturan Kirim Barang dan Makanan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














