kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.781.000   -38.000   -2,09%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Anak Buah Luhut Sebut Indonesia Tidak Terapkan Lagi Ekonomi Monyet. Apa Maksudnya?


Rabu, 07 Desember 2022 / 14:31 WIB
Anak Buah Luhut Sebut Indonesia Tidak Terapkan Lagi Ekonomi Monyet. Apa Maksudnya?
ILUSTRASI. pertambangan mineral di Indonesia


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Septian Hario Seto mengatakan bahwa ekonomi Indonesia sudah cukup baik lantaran sudah meninggalkan mindset ekonomi ayam dan monyet.

Dalam hal ini, ekonomi ayam dan monyet diartikan sebagai praktik ekonomi yang bertahun-tahun dilakukan Indonesia dengan hanya menggali tambang kemudian tinggal diekspor ke luar negeri. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu ekosistem industri yang kuat yakni dengan cara hiirisasi.

"Kenapa sih ekonomi ayam? Karena kalau kami tahu ayam itu kalau cari makan dia gali-gali terus langsung dia makan. Sama kayak kami nambang gali-gali ekspor. Atau kalau misalnya ada asosiasi yang lain menyebutnya ekonomi monyet. Monyet kan petik langsung dimakan. Jadi ini enggak, saya kira mindsetnya kita berubah," ujar Septian dalam acara Forum Kemitraan Investasi: Kemitraan Pelaku Usaha untuk Investasi Inklusif dan Berkelanjutan, Rabu (7/12).

Baca Juga: Sukses Digelar, Berikut Hasil Pertemuan Tingkat Menteri AIS Forum 2022

Septian mengatakan, Indonesia kini telah menggunakan sumber daya alam mineralnya tidak hanya menjualnya melalui bahan mentah saja, namun diolah menjadi sesuatu yang bernilai tambah dengan cara hilirisasi. Terbukti, dengan cara melakukan hilirisasi telah berdampak kepada peningkatan ekspor.

"Kami sudah mulai di nikel jadi besi baja, kita akan mengarah kepada batery lithium," katanya.

Berdasarkan paparannya, hilirisasi nikel menjadi besi baja dan bahan baku baterai telah berkontribusi signifikan terhadap peningkatan ekspor.

Tercatat, per Oktober 2022 kontribusi turunan ekspor nikel telah mencapai US$ 28,3 miliar dan sampai akhir tahun diperkirakan akan menyentuh US 33 miliar.

"Jadi ini suatu yang sangat signifikan," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×