kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.859.000   40.000   1,42%
  • USD/IDR 17.535   104,00   0,60%
  • IDX 6.859   -46,72   -0,68%
  • KOMPAS100 916   0,38   0,04%
  • LQ45 670   1,21   0,18%
  • ISSI 248   -2,34   -0,93%
  • IDX30 377   0,90   0,24%
  • IDXHIDIV20 461   -0,72   -0,16%
  • IDX80 104   0,22   0,22%
  • IDXV30 132   0,58   0,44%
  • IDXQ30 120   -0,91   -0,75%

Ada insentif pajak, target setoran pajak tetap


Senin, 26 Agustus 2013 / 06:51 WIB
ILUSTRASI. Kantor cabang Bank Rakyat Indonesia (BRI). 


Reporter: Margareta Engge Kharismawati | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Terhitung mulai tahun depan, pemerintah bakal menebar insentif pajak. Tujuannya supaya tren penurunan investasi ke Indonesia tak kian menukik tajam.

Insentif ini mulai dari mempermudah penerima insentif tax holiday dan tax allowance melalui revisi Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 130/2011. Meski, kebijakan ini berarti memberikan diskon kepada wajib pajak, pemerintah tetap optimistis kebijakan ini tidak akan menyebabkan target penerimaan negara dari pajak jadi meleset. "Pajak mesti mengejar target yang harus dikejar, dong. Yang boleh diberi insentif hanya beberapa," ujar Muhammad Chatib Basri, Menteri Keuangan, Jumat (23/8).

Asal tahu, pemerintah mengeluarkan paket kebijakan penyelamatan ekonomi berupa pengurangan pajak penghasilan bagi untuk sektor padat karya yang memiliki ekspor minimal 30% dari total produksi serta untuk biaya riset dan pengembangan (R&D) yang dilakukan di Indonesia.

Pengurangan PPh juga diberikan kepada industri padat karya yang tidak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Pemerintah juga penghapusan pajak pertambahan nilai (PPN) buku nonfiksi, penghapusan PPnBM bagi produk yang sudah tak dikategorikan barang mewah.

Saat dikonfirmasi mengenai potensi pencapaian target pajak ini, Dirjen Pajak Fuad Rahmany enggan menanggapi. "Enggak ada komentar dulu. PMK-nya belum keluar," tuturnya ketika dihubungi KONTAN, Minggu (25/8).

Pengamat perpajakan, Darussalam, berpendapat, dalam jangka pendek penerimaan pajak memang akan terganggu dengan adanya pemberian sejumlah insentif tersebut.  Soal berapa persen potensi penerimaan yang hilang, ia belum menghitung. Sebab  hingga kini belum jelas perincian bentuk insentif ini. Namun, ia menilai jika insentif ini bisa menggerakkan roda perekonomian Indonesia yang melambat, insentif itu memang layak diberikan.

Ia menilai, fungsi Direktorat Jenderal Pajak sebagai regulator lebih diutamakan ketimbang fungsi pendapatan. "Ini saat Ditjen Pajak ambil peran. Ikut membantu agar kondisi ini membaik," ujarnya.

Sebagai catatan, tahun ini kantor pajak memang empot-empotan untuk mencapai target setoran. Lihat saja, realisasi penerimaan pajak hingga akhir Juli 2013 baru mencapai Rp 484,1 triliun atau 48,6% dari pagu Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2013 sebesar Rp 995,2 triliun.

Kini, Ditjen Pajak harus kerja keras memenuhi setoran ke kas negara meskipun pertumbuhan ekonomi melambat. Salah satu target buruan yang baru adalah pajak usaha kecil yang beromzet usaha kurang dari Rp 4,8 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×