: WIB    —   
indikator  I  

Untung rugi kereta semi cepat Jakarta-Surabaya

Untung rugi kereta semi cepat Jakarta-Surabaya

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Proyek Kereta Jakarta-Surabaya masih terus berproses dalam Pra Studi Kelayakan (Pre Feasibility Study/ Pre FS). Namun salah satu pilihan dalam hasil survei untuk proyek ini sudah mulai mengerucut.

Pihak Japan International Cooperation Agency (JICA) pun telah memberikan bocoran bahwa berdasarkan hitungan awal Pre FS proyek ini akan menggunakan kereta semi cepat.

Dengan tenaga diesel dan menggunakan jalur eksisting, kereta tersebut akan menempuh Jakarta-Surabaya dengan jarak 748 km dalam waktu 5,5 jam atau dengan rerata kecepatan 160 km/jam.

Pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno menyatakan jika pilihan proyek itu kereta semi cepat maka idealnya menggunakan tenaga listrik bukan diesel. Ini lantaran penggunaan listrik bisa membuat lebih efisien dan hemat.

"Di negara lain itu menggunakan tenaga listrik karena lebih ramah lingkungan dan meringankan beban negara juga," kata Djoko kepada Kontan.co.id, Selasa (14/11).

Meski ia tak menampik ada wilayah di beberapa negara seperti Malaysia dan Australia juga menggunakan kereta bertenaga diesel. Namun ia melihat, jika pilihan pemerintah akan seperti itu, kereta semi cepat Jakarta-Surabaya juga harus bisa berkompetitif untuk mengalihkan penumpang pesawat terbang agar proyek ini tak berjalan sia-sia.

Selain itu juga, dengan menggunakan jalur eksisting pada kereta semi cepat, pemerintah harus mempertimbangkan daya dukung tanah karena atas konsekuensi kecepatan kereta itu.

Dan pemerintah juga wajib untuk menghilangkan perlintasan sebidang pada sepanjang jalur yang akan dilalui kereta ini. "Opsinya pemerintah harus menaruh elevated di beberapa wilayah kota yang dilintasinya," jelas dia.

Sementara itu, Sementara itu Kepala Humas Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Joice Hutajulu bilang pihaknya masih menunggu penyelesaian Pre FS pada Desember 2017. Dia mengaku baru ada kepastian dalam penggunaan jalur eksisiting.

Terkait dengan hasil studi yang lain, ia bilang masih menunggu hasil pembahasan Ditjen KA, JICA DAN BPPPT. "Studinya masih berjalan, baru selesai pada Desember 2017," ujar Joice.

Deputi Bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa (TIRBR) BPPT, Wahyu Widodo Pandoe menyatakan pihaknya masih melakukan sejumlah kajian. "Diharapkan akhir November ini bisa selesai, awal Desember bisa dirilis ke Kementerian Perhubungan," katanya.

Selain itu, masih ada kajian seperti revitalisasi jalur, lintasan sebidang, rolling stock, perbaikan lengkungan dan penguatan struktur. Selain itu, penghitungan skala ekonomi proyek ini juga masih dikaji.

Tapi dia bilang ada beberapa pilihan teknologi yang bisa diadopsi proyek ini. Namun ia mengaku hingga saat ini masih akan mengkaji dua pilihan teknologi. "Tapi kita belum sampai pada kesimpulan," pungkasnya.


Reporter Ramadhani Prihatini
Editor Yudho Winarto

KERETA CEPAT

Feedback   ↑ x
Close [X]