SUKU PEMERINTAH
Pemerintah tambah frekuensi lelang sukuk
Oleh Wahyu Satriani - Senin, 05 Desember 2011 | 07:20 WIB

JAKARTA. Pilihan instrumen investasi berbasis syariah bakal kian beragam. Pemerintah berencana menambah nilai, frekuensi, maupun variasi penerbitan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk mulai tahun depan. Pemerintah menjadwalkan sukuk negara akan terbit dua kali dalam sebulan di 2012.
Saat ini, penerbitan surat utang syariah ini rata-rata hanya satu kali sebulan. Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto menuturkan, pemerintah mematok, nilai penerbitan sukuk tahun depan mencapai Rp 40 triliun-Rp 50 triliun. "Jumlah sukuk yang akan diterbitkan lebih banyak dan dengan struktur beragam," ujar Rahmat kepada KONTAN.
Jika menilik nota RAPBN 2012, tahun depan, pemerintah berencana menerbitkan surat utang Rp 240,33 triliun. Dari jumlah ini, sekitar Rp 198 triliun merupakan Surat Utang Negara (SUN). Artinya, alokasi penerbitan sukuk adalah sekitar Rp 42 triliun.
Jumlah itu naik tipis dari penerbitan sukuk tahun ini. Hingga akhir November lalu, pemerintah telah menerbitkan sukuk senilai Rp 33,30 triliun.
Dari total sukuk tersebut, senilai Rp 9,03 triliun merupakan sukuk global. Rahmat menuturkan, pemerintah akan memperbanyak penerbitan sukuk berbasis proyek (PBS) serta Sukuk Dana Haji Indonesia (SDHI). "Sukuk berbasis proyek ini bagus karena bisa menggerakkan infrastruktur," ujar dia.
Sekadar mengingatkan, Oktober lalu, pemerintah sempat menawarkan sukuk berbasis proyek. Namun, lelang surat utang syariah ini gagal lantaran sepi peminat.
Rencana pemerintah memperbanyak penerbitan sukuk ini disambut baik para manajer investasi. Pasalnya, surat utang tersebut bisa dimanfaatkan sebagai alternatif aset dasar instrumen investasi syariah. "Saat ini, aset dasar sukuk masih sangat kurang, jadi semakin banyak semakin bagus," kata Agus Yanuar, Presiden Direktur PT Samuel Asset Management.
Namun, pengelola dana pensiun menilai sukuk pemerintah tidak menarik. Ketua Umum Asosiasi Dana Pensiun Indonesia Djoni Rolindrawan beralasan, keuntungan investasi yang ditawarkan sukuk terhitung kecil. Apalagi, BI rate sudah turun menjadi 6%.
Sementara, "Target investasi dana pensiun rata-rata di atas 10%, tahun depan juga begitu," tandas Djoni. Saat ini, investasi dana pensiun di sukuk juga masih kecil, masih di bawah 10% dari total portofolio investasi.
- Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
- Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
- Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
- KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.