kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.713.000   -20.000   -0,73%
  • USD/IDR 17.934   -25,00   -0,14%
  • IDX 5.902   155,73   2,71%
  • KOMPAS100 783   23,11   3,04%
  • LQ45 589   20,16   3,54%
  • ISSI 202   4,81   2,44%
  • IDX30 335   12,48   3,87%
  • IDXHIDIV20 413   15,31   3,84%
  • IDX80 88   2,33   2,70%
  • IDXV30 111   2,33   2,15%
  • IDXQ30 108   3,73   3,59%

Pemerintah belum hapus bea masuk impor mesin mobil


Selasa, 31 Januari 2012 / 11:54 WIB
ILUSTRASI. ilustrasi. Lelang mobil dinas Daihatsu Terios 2009, harga di bawah pasaran, hanya Rp 66 juta. KONTAN/Cheppy A. Muchlis/23/11/2017


Reporter: Eka Saputra | Editor: Edy Can

JAKARTA. Kementerian Perindustrian belum bisa menghapus bea masuk impor mesin bagi industri mobil nasional. Saat ini, besaran tarif bea masuk impor mesin otomotif itu sebesar 10%.

Menteri Perindustrian MS Hidayat beralasan, penghapusan bea masuk impor mesin otomotif itu justru akan menguntungkan produsen di negara asal. "Jadi maksud kebijakan ini justru untuk mendorong industri perakitan dalam negeri," katanya, Selasa (31/1).

Hidayat membantah apabila penerapan bea masuk itu sebagai tindak diskriminatif. Menurutnya, tarif itu sesuai buku tarif kepabeanan tahun 2012.

Sementara perusahaan yang memproduksi mesin dapat mengimpor komponen dengan skema incompletely knock down yang tarif bea masuknya 2,5 % atau impor dengan tarif 0 % hingga 10 %. "Ketentuan ini bisa berlaku bagi semua agen agen pemegang merek atau pun merek lokal," katanya.

Hidayat menegaskan, pihaknya tetap mendukung perkembangan industri mobil nasional. Dia mengaku telah memberikan nomor identifikasi kendaraan kepada PT Solo Manufaktur Kreasi. Ini artinya, produsen Kiat Esemka ini sudah memenuhi persyaratan memproduksi mobil.

Namun, dia mengingatkan, industri mobil nasional ini karena memiliki mata rantai yang panjangan dan persaingannya ketat. Dia juga mengatakan, produsen kendaraan ini belum mempunyai jaringan purna jual, penyediaan suku cadang, layanan servis dan penjualan agak terbatas. Karena itu, Hidayat mengatakan perlu keterlibatan pihak swasta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×