: WIB    --   
indikator  I  

Ekonomi hingga 2019 diramal sulit tumbuh tinggi

Ekonomi hingga 2019 diramal sulit tumbuh tinggi

KONTAN.CO.ID - Ekonomi Indonesia hingga tahun 2019 mendatang diperkirakan masih akan tumbuh moderat. Alasannya, investor dan pelaku usaha yang masih menunggu sambil mengamati saat yang tepat untuk berinvestasi (wait and see).

Ekonom Institute for Development of Economics & Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan, pengusaha yang masih wait and see telah tampak pada kondisi saat ini. Saat ini, terdapat pergeseran portfolio investor asing yang berpindah dari saham ke surat utang

"Kalau bergeser ke surat utang artinya investor motifnya lebih ke berjaga-jaga," kata Bhima kepada KONTAN, Rabu (13/9).

Diakui Bhima, bertepatan dengan Pemilu, ekonomi Indonesia di tahun 2019 juga akan terdorong oleh belanja persiapan pesta demokrasi tersebut. Namun, melihat Pemilu tahun sebelumnya, efek belanja tersebut kurang signifikan.

"Dampak belanja Pemilu ke ekonomi antara 0,1%-0,2%. Tetapi di Pemilu 2014 menunjukkan pergeseran konsumsi iklan. Model spanduk, iklan di tv atau media cetak, kaos yang bentuknya fisik berkurang, pindah ke digital," tambahnya.

Bhima memperkirakan, ekonomi Indonesia di 2019 masih akan tumbuh di bawah 6%. Dorongan pertumbuhan 2019 diprediksi berasal dari bantuan sosial terutama Program Keluarga Harapan (PKH) dan beras sejahtera (rastra) yang jumlahnya naik signifikan di tahun depan.

"Setidaknya bantuan sosial jadi penguat daya beli di lapisan masyarakat bawah," tambah dia.

Ekonomi di tahun itu lanjut dia, masih bisa tumbuh 5,4% dengan dorongan ekspor, belanja pemerintah, dan konsumsi rumah tangga. Namun demikian, stabilitas politik harus tetap dijaga.

Selain itu, iklim investasi yang nyaman mungkin agar Penanaman Modal Asing (PMA) tetap masuk. Sebab, selama semester pertama tahun ini, pertumbuhan PMA hanya 5% di saat Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) bisa tumbuh 26%.


Reporter Adinda Ade Mustami
Editor Sanny Cicilia

MAKROEKONOMI

Feedback   ↑ x
Close [X]