Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID-BOGOR. Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyoroti tingginya utang Amerika Serikat (AS) yang telah mencapai lebih dari US$ 40 triliun.
Kondisi tersebut dinilai turut memberikan tekanan terhadap tingkat imbal hasil (yield) yang dituntut investor dan pada akhirnya berpengaruh terhadap suku bunga global.
Juda mengatakan, kondisi perekonomian global saat ini masih dibayangi ketidakpastian, terutama akibat dinamika geopolitik yang dapat mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Baca Juga: KSPN Sebut BSU Belum Cukup Dongkrak Daya Beli Pekerja
"Kita tahu geopolitical risk ini yang kemudian mendorong kenaikan harga minyak dunia. Kenaikan harga minyak dunia mendorong tekanan inflasi," ujar Juda dalam Media Gathering, Kamis (1/10/2026).
Menurutnya, tekanan inflasi tersebut kemudian dapat mendorong kenaikan suku bunga global. Kondisi ini semakin kompleks ketika negara-negara maju, termasuk AS, menghadapi kebutuhan pembiayaan yang besar.
"Kalau di Amerika kita tahu utang mereka sudah lebih dari US$ 40 triliun. Yang tentu saja kalau utangnya banyak, maka investor menuntut yield yang lebih bagus," katanya.
Tuntutan investor terhadap yield yang lebih tinggi tersebut, lanjut Juda, turut mendorong kenaikan suku bunga di negara-negara maju, termasuk AS dan Eropa.
"Inilah tantangan yang kita hadapi," tegas Juda.
Baca Juga: Indeks Manufaktur Indonesia Naik, Wamenkeu Klaim Investasi Membaik
Juda menilai ketidakpastian global masih cukup tinggi sehingga pemerintah perlu menyiapkan asumsi bahwa kondisi suku bunga tinggi dapat berlangsung lebih lama.
Menurut dia, jika ketidakpastian geopolitik masih berlanjut, kondisi higher for longer perlu menjadi perhatian hingga 2027.
"Ini kelihatannya masih tidak pasti dan kita harus siap higher for longer. Kalau bicara geopolitical risk kan kita masih sangat tidak pasti sekarang. Jadi kita harus asusmikan ini sebagai higher for longer di 2027," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













