kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.581.000   -14.000   -0,54%
  • USD/IDR 17.983   71,00   0,40%
  • IDX 6.024   -46,70   -0,77%
  • KOMPAS100 777   -8,24   -1,05%
  • LQ45 595   -6,44   -1,07%
  • ISSI 209   -1,78   -0,85%
  • IDX30 329   -3,50   -1,05%
  • IDXHIDIV20 421   -3,93   -0,93%
  • IDX80 89   -0,95   -1,06%
  • IDXV30 114   -0,44   -0,38%
  • IDXQ30 108   -0,92   -0,84%

Utang AS Tembus US$ 40 Triliun, Wamenkeu Waspadai Tuntutan Yield Investor


Kamis, 01 Oktober 2026 / 14:13 WIB
Diperbarui Kamis, 01 Oktober 2026 / 14:21 WIB
Utang AS Tembus US$ 40 Triliun, Wamenkeu Waspadai Tuntutan Yield Investor
ILUSTRASI. Wakil Menteri Keuangan Juda Agung (KONTAN/Nurtiandriyani S)


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID-BOGOR. Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyoroti tingginya utang Amerika Serikat (AS) yang telah mencapai lebih dari US$ 40 triliun. 

Kondisi tersebut dinilai turut memberikan tekanan terhadap tingkat imbal hasil (yield) yang dituntut investor dan pada akhirnya berpengaruh terhadap suku bunga global.

Juda mengatakan, kondisi perekonomian global saat ini masih dibayangi ketidakpastian, terutama akibat dinamika geopolitik yang dapat mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Baca Juga: KSPN Sebut BSU Belum Cukup Dongkrak Daya Beli Pekerja

"Kita tahu geopolitical risk ini yang kemudian mendorong kenaikan harga minyak dunia. Kenaikan harga minyak dunia mendorong tekanan inflasi," ujar Juda dalam Media Gathering, Kamis (1/10/2026).

Menurutnya, tekanan inflasi tersebut kemudian dapat mendorong kenaikan suku bunga global. Kondisi ini semakin kompleks ketika negara-negara maju, termasuk AS, menghadapi kebutuhan pembiayaan yang besar.

"Kalau di Amerika kita tahu utang mereka sudah lebih dari US$ 40 triliun. Yang tentu saja kalau utangnya banyak, maka investor menuntut yield yang lebih bagus," katanya.

Tuntutan investor terhadap yield yang lebih tinggi tersebut, lanjut Juda, turut mendorong kenaikan suku bunga di negara-negara maju, termasuk AS dan Eropa.

"Inilah tantangan yang kita hadapi," tegas Juda.

Baca Juga: Indeks Manufaktur Indonesia Naik, Wamenkeu Klaim Investasi Membaik

Juda menilai ketidakpastian global masih cukup tinggi sehingga pemerintah perlu menyiapkan asumsi bahwa kondisi suku bunga tinggi dapat berlangsung lebih lama.

Menurut dia, jika ketidakpastian geopolitik masih berlanjut, kondisi higher for longer perlu menjadi perhatian hingga 2027.

"Ini kelihatannya masih tidak pasti dan kita harus siap higher for longer. Kalau bicara geopolitical risk kan kita masih sangat tidak pasti sekarang. Jadi kita harus asusmikan ini sebagai higher for longer di 2027," pungkasnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×