kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45700,06   2,33   0.33%
  • EMAS938.000 -0,85%
  • RD.SAHAM 0.36%
  • RD.CAMPURAN 0.15%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.14%

The Fed rate kembali dipangkas, Gubernur BI isyaratkan pelonggaran moneter berlanjut


Kamis, 31 Oktober 2019 / 19:30 WIB
The Fed rate kembali dipangkas, Gubernur BI isyaratkan pelonggaran moneter berlanjut
ILUSTRASI. BI Turunkan Suku Bunga ——Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo didampingi para Deputi Gubernur BI hadir pada jumpa pers pemaparan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Kamis (24/10). RDG BI pada 23-24 Oktober 2019 memutuskan untuk menurunka

Reporter: Grace Olivia | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve kembali memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) pada pertemuan FOMC, Kamis (31/10).

Ini merupakan pemangkasan suku bunga acuan yang ketiga kali oleh The Fed sepanjang 2019. Suku bunga AS saat ini berada di kisaran 1,50%-1,75%.

Baca Juga: Pasar tunggu sentimen baru, rupiah potensi menguat pada Jumat besok

Adapun sebelumnya, Bank Indonesia telah terlebih dahulu memangkas suku bunga acuan sebesar 25 bps ke level 5%. Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan, pemangkasan suku bunga BI telah mencapai 1% dalam kurun empat bulan terakhir.

Dengan perkembangan moneter global, terutama dari AS, saat ini, Perry mengatakan BI masih melihat adanya ruang untuk kebijakan yang lebih akomodatif ke depan.

“Dalam setiap RDG (Rapat Dewan Gubernur BI) kami selalu memberi keputusan yang clear dan forward guidance berdasarkan analisis terhadap skenario-skenario Amerika,” kata Perry, Kamis (31/10).

Baca Juga: Untuk menjaga pertumbuhan ekonomi, BI memangkas suku bunga acuan hingga empat kali

Asumsi yang mendasari keputusan kebijakan bank sentral saat ini, lanjut Perry, adalah proyeksi pertumbuhan ekonomi global sebesar 3% pada tahun ini dan 3,1% pada tahun 2020.

Hal tersebut dengan asumsi perang dagang antara AS dan China tidak berlanjut atau mencapai kesepakatan sehingga tambahan tarif dagang antara kedua negara itu tidak terjadi lagi.

“Berdasarkan asumsi itu, kami kemarin berikan forward guidance bahwa BI masih melihat terbukanya ruang bagi kebijakan moneter yang akomodatif,” ujar Perry.




TERBARU
Terpopuler

Close [X]
×