kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.540.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.097   17,00   0,09%
  • IDX 5.439   51,35   0,95%
  • KOMPAS100 703   6,01   0,86%
  • LQ45 547   2,49   0,46%
  • ISSI 186   3,05   1,66%
  • IDX30 306   1,13   0,37%
  • IDXHIDIV20 403   3,67   0,92%
  • IDX80 81   0,56   0,70%
  • IDXV30 112   1,52   1,37%
  • IDXQ30 102   0,58   0,58%

Survei LPEM FEB UI: 52% Ekonom Nilai Kondisi Ekonomi Memburuk, Inflasi Masih Tinggi


Minggu, 25 Oktober 2026 / 13:21 WIB
Survei LPEM FEB UI: 52% Ekonom Nilai Kondisi Ekonomi Memburuk, Inflasi Masih Tinggi
ILUSTRASI. Pekerja konstruksi di Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  Sejumlah ahli ekonomi  atau ekonom memberikan penilaian negatif terhadap kondisi perekonomian Indonesia. 

Sebanyak 52% ahli ekonomi menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini lebih buruk dibandingkan tiga bulan sebelumnya.

Temuan tersebut tercatat dalam Survei Ahli Ekonomi Semester II 2026 yang dirilis Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI).

Baca Juga: Fitch Khawatirkan Tingginya Beban Utang Indonesia Dibanding Negara Selevel

Berdasarkan hasil survei terhadap 63 ahli ekonomi, sebanyak 33 responden menilai kondisi ekonomi Indonesia memburuk. 

Rinciannya, 29 responden atau 46% menilai kondisi ekonomi lebih buruk, sedangkan empat responden atau 6% menilai kondisinya jauh lebih buruk.

Di sisi lain, sebanyak 25 responden atau 40% menilai kondisi ekonomi tidak berubah dibandingkan tiga bulan sebelumnya. 

Sementara itu, hanya lima responden atau 8% yang menilai kondisi ekonomi membaik. Tidak ada responden yang menilai kondisi ekonomi jauh lebih baik.

"52% ahli menilai kondisi ekonomi saat ini lebih buruk dibandingkan tiga bulan lalu," dikutip dari laporan tersebut, Minggu (25/10/2026).

Dalam laporan tersebut, rata-rata penilaian kondisi ekonomi saat ini tercatat minus 0,51. Angka ini lebih rendah dibandingkan hasil survei Semester I 2026 yang sebesar minus 0,39. Meski demikian, perubahan tersebut tidak signifikan secara statistik.

Tekanan Inflasi Masih Tinggi

Selain menilai kondisi ekonomi memburuk, mayoritas ahli ekonomi juga menyoroti tekanan inflasi yang masih tinggi.

Sebanyak 49 dari 63 responden atau 78% menilai tekanan inflasi terhadap perekonomian Indonesia saat ini tinggi. Dari jumlah tersebut, 44 responden atau 70% memberikan penilaian tinggi dan lima responden atau 8% menilai sangat tinggi.

Baca Juga: Fitch Beri Warning! Ini yang Bisa Bikin Peringkat Utang Indonesia Tertekan

Sebanyak 13 responden atau 21% menilai tekanan inflasi berada pada tingkat netral. Sementara itu, satu responden atau 2% menilai tekanan inflasi rendah. Tidak ada responden yang menilai tekanan inflasi sangat rendah.

Ke depan, tekanan inflasi juga masih menjadi perhatian para ahli ekonomi. Sebanyak 38 responden atau 60% memperkirakan tekanan inflasi akan meningkat dalam satu bulan mendatang.

Penciptaan Lapangan Kerja Dinilai Memburuk

Sorotan lainnya datang dari kondisi pasar tenaga kerja. Sebanyak 46 dari 63 ahli ekonomi atau 73% menilai penciptaan lapangan kerja saat ini lebih rendah dibandingkan enam bulan sebelumnya.

Rinciannya, 30 responden atau 48% menilai penciptaan lapangan kerja lebih rendah, sedangkan 16 responden atau 25% menilai kondisinya jauh lebih rendah.

Sebanyak 15 responden atau 24% menilai penciptaan lapangan kerja tidak berubah. Adapun dua responden atau 3% menilai penciptaan lapangan kerja lebih tinggi.

Di tengah penilaian negatif terhadap kondisi ekonomi saat ini, mayoritas ahli ekonomi memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam tiga bulan mendatang tidak banyak berubah.

Sebanyak 33 responden atau 52% memperkirakan pertumbuhan ekonomi tidak berubah dari angka terbaru. 

Sementara itu, 21 responden atau 33% memperkirakan pertumbuhan ekonomi melambat, termasuk lima responden yang memperkirakan perlambatan signifikan.

Sebaliknya, sembilan responden atau 14% memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan melaju. Tidak ada responden yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi melaju secara signifikan.

Baca Juga: Gas ke Singapura Dipangkas, SKK Migas Ungkap untuk Perkuat Listrik Batam-Sumatra

Adapun, Survei Ahli Ekonomi Semester II 2026 ini dilakukan pada 21 September hingga 13 Oktober 2026 melalui platform daring. 

Survei ini menghimpun pandangan 63 ahli ekonomi dari berbagai latar belakang, termasuk akademisi, lembaga penelitian, think tank, sektor swasta, serta organisasi dan institusi multinasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×