CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.601.000   -9.000   -0,34%
  • USD/IDR 17.880   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.340   108,24   1,74%
  • KOMPAS100 839   16,49   2,00%
  • LQ45 637   8,89   1,42%
  • ISSI 218   3,63   1,69%
  • IDX30 358   3,90   1,10%
  • IDXHIDIV20 444   3,51   0,80%
  • IDX80 96   1,59   1,69%
  • IDXV30 119   0,82   0,69%
  • IDXQ30 115   1,03   0,91%

Suntikan Dana Rp 200 Triliun ke Bank Himbara, Berikut Catatan Ekonom Prasasti


Rabu, 24 September 2025 / 16:35 WIB
Suntikan Dana Rp 200 Triliun ke Bank Himbara, Berikut Catatan Ekonom Prasasti
ILUSTRASI. Laporan APBN Kita Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat jumpa pers Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Kita di Jakarta, Senin (22/9/2025). Kementerian Keuangan mencatat defisit APBN 2025 Rp 321,6 triliun atau 1,35% dari PDB per 31 Agustus 2025. Posisi defisit ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, sebesar 0,69% atau Rp 153,4 triliun. Sasaran defisit RI pada tahun ini sebenarnya mencapai 2,78%. Adapun, keseimbangan primer mencapai Rp 22 triliun hingga 31 Agustus 2025. KONTAN/Cheppy A. Muchlis/22/09/2025


Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) menilai langkah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menempatkan dana Rp 200 triliun di bank-bank Himbara sebagai terobosan penting untuk mendorong pertumbuhan kredit dan investasi.

Namun, efektivitas kebijakan ini dinilai bergantung pada kekuatan permintaan kredit.

Baca Juga: Bank Swasta dapat Angin Segar dari Kucuran Dana Rp 200 Triliun Pemerintah

“Tujuan penempatan dana Rp 200 triliun di bank-bank Himbara adalah untuk mendorong pertumbuhan kredit yang bisa meningkatkan investasi dan mempercepat pertumbuhan ekonomi. Upaya ini harus diapresiasi, tetapi agar berhasil, perlu ada kebijakan yang searah dari otoritas moneter serta deregulasi di sektor riil,” ujar Piter Abdullah, Program and Policy Director Prasasti dalam keterangan resminya Rabu (24/9/2025).

Dana tersebut diumumkan pada 12 September 2025, setara 4,5% dari total simpanan perbankan nasional.

Alokasinya terdiri atas Rp55 triliun ke BRI, Mandiri, dan BNI; Rp25 triliun ke BTN; serta Rp10 triliun ke BRIS.

Biaya penempatan ditetapkan 4%, lebih rendah dari 5–7% deposito khusus sebelumnya, sehingga menurunkan funding cost dan memperkuat kapasitas intermediasi bank.

Baca Juga: Menkeu Kucurkan Rp 200 Triliun ke Bank: Cermati Risiko & Peluangnya!

Meski likuiditas perbankan relatif ample dengan rasio AL/NCD 120,25% dan AL/DPK 27,25%, permintaan kredit masih lemah. Hingga Agustus 2025, pertumbuhan kredit baru 7,56% YoY dengan NPL terjaga di bawah 3%.

Undisbursed loan mencapai Rp2.372 triliun atau 22,71% dari plafon kredit, mencerminkan minimnya realisasi pinjaman dunia usaha.

“Angka itu menunjukkan masih banyak dana kredit yang tidak digunakan. Lemahnya permintaan dipicu pemulihan ekonomi pasca-COVID yang belum penuh, ketidakpastian global akibat perang Ukraina, konflik Israel–Palestina, dan perang dagang AS. Karena itu, fokus kebijakan harus diarahkan pada pemulihan kepercayaan usaha dan peningkatan daya beli rumah tangga,” kata Piter.

Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga lima kali tahun ini, termasuk 50 bps pada September, namun pelaku usaha masih berhati-hati berekspansi dan rumah tangga enggan menambah utang.

Kondisi ini menunjukkan bahwa ketersediaan likuiditas dan penurunan bunga saja tidak cukup mendorong penyerapan kredit.

Baca Juga: Ini Efek Instan Dana Rp 200 Triliun Terhadap Likuiditas Perbankan Menurut OJK


Tag


TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×